Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 21 Januari 2012

OBYEK WISATA JAWA BARAT

I.  WISATA  ALAM

1. Danau Kawah Putih Gunung Patuha
Danau Kawah Putih berada di puncak Gunung Patuha yang oleh masyarakat setempat dinamakan juga Gunung Sepuh. Selain Kawah Putih, gunung yang memiliki ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut dan bersuhu antara 8-12 derajat celcius ini juga memiliki Kawah Saat di bagian baratnya. Kedua kawah ini terbentuk akibat letusan Gunung Patuha pada abad ke-10 dan ke-12. Kawah Putih berada di ketinggian 2.194 meter di atas permukaan laut.
Keindahan Danau Kawah Putih ditemukan pada tahun 1837 oleh ahli botani Belanda peranakan Jerman bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn. Sebelumnya, masyarakat sekitar menganggap puncak gunung tersebut angker dan penuh misteri, sehingga tak seorang pun yang berani mendatanginya.
Jauh setelah penemuan itu, yaitu pada tahun 1983, pihak Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten baru menjadikan kawasan Danau Kawah Putih sebagai objek wisata yang dibuka untuk umum. Di kawasan tersebut, pengunjung dapat menikmati berbagai keunikan Danau Kawah Putih. Disamping keindahan alam sekitarnya yang masih asri, pengunjung juga dapat melihat langsung uap panas keluar dari bebatuan yang diinjak, gelegak air di tengah kawahnya, dan mencium aroma belerang yang tidak terlalu menyengat.
Pengunjung dapat menikmati keindahan Danau Kawah Putih sambil berjalan santai mengelilingi danau atau sambil duduk di shelter-shelter yang ada di kawasan tersebut. Pengunjung akan menjumpai aneka jenis flora langka, seperti bunga Eldelweis, tanaman Cantiqi yang harum, tanaman Lemo yang berkhasiat dapat mengusir binatang berbisa, dan Vaccinium sebagai vegetasi tanaman khas kawah. Selain berbagai jenis flora, di kawasan ini juga terdapat berbagai jenis fauna, seperti elang, monyet, kancil, babi hutan, macan kumbang, dan macan tutul.
Pengunjung juga dapat melihat air kawahnya yang berubah-rubah warna. Terkadang berwarna hijau apel dan kebiru-biruan. Bila matahari terik dan cuaca terang, warnanya berubah menjadi coklat. Kendati demikian, warna putih adalah warna dominan air kawahnya. Dominasi warna putih juga terlihat pada warna pasir dan bebatuan yang terdapat di sekitar danau tersebut.
Danau Kawah Putih Gunung Patuha terletak di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Berjarak sekitar 46 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Bandung.
Dari kota Bandung, pengunjung yang membawa kendaraan pribadi dapat langsung menuju lokasi Kawah Putih melewati kota Ciwidey, gerbang utama menuju kawasan wisata Bandung Selatan. Dari sini, pengunjung harus berjalan kaki menuju kawah sekitar 5 kilometer lagi.
Bagi pengunjung yang naik angkutan umum, ada dua alternatif angkutan dari Terminal Bus Leuwipanjang Bandung, yaitu naik angkutan kota (angkot) atau naik bus Sukaraja jurusan Bandung-Ciwidey menuju pintu masuk Kawah Putih.

2.  Pantai Pangandaran
Kawasan Pantai Pangandaran merupakan salah satu objek wisata andalan Kabupaten Ciamis dan Provinsi Jawa Barat. Bahkan, kawasan yang berada di Pantai Selatan Jawa ini masuk dalam agenda kunjungan wisata Indonesia tahun 2008 lalu. Karena itu, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Budaya setempat, terus membenahi dan melengkapi berbagai fasilitas penunjang kawasan wisata Pantai Pangandaran.
Pengunjung dapat menikmati panorama alam Pantai Pangandaran yang indah dan hamparan landai pasir putih pantainya yang memesona. Dua bukit yang mengapit Pantai Pangandaran membuat angin berhembus pelan dan riak ombak lautnya relatif kecil, sehingga pengunjung nyaman melakukan berbagai aktivitas, seperti berenang menggunakan ban, berperahu mengelilingi semenanjung, memancing, bersantai di pantai, atau sekadar mencerap keindahan alamnya dari pondok-pondok wisata yang banyak terdapat di kawasan tersebut. Selain itu, pengunjung dapat melihat terbit dan terbenamnya matahari dari tempat yang sama. Bagi pengunjung yang ingin menyelam, di kawasan ini terdapat taman laut dengan aneka fauna dan flora lautnya yang indah. Jalan di sekitar pantai ini sudah beraspal mulus, sehingga memudahkan pengunjung yang ingin mengelilingi kawasan tersebut dengan kendaraan bermotor atau sepeda. Bila malam tiba, pengunjung tetap akan merasa nyaman berada di Pantai Pangandaran, karena kawasan tersebut telah dilengkapi dengan lampu penerangan yang memadai.
Setiap akhir pekan, biasanya digelar pertunjukan seni tradisional Jawa Barat. Selain itu, pada bulan-bulan tertentu digelar berbagai event, seperti hajat laut nelayan Pangandaran pada bulan Maret, nyiar lumar pada bulan Juni, festival layang-layang internasional (Pangandaran International Kite Festival) pada bulan Juli, karnaval perahu hias pada bulan Agustus, lomba memancing pada bulan September, wisata lintas alam dan off road pada bulan Oktober, dan pesta perayaan tahun baru pada bulan Desember.
Pantai Pangandaran terletak di Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Dari Bandung, pengunjung dapat menggunakan rute Bandung – Tasikmalaya - Pangandaran. Jaraknya sekitar 236 kilometer. Selain dengan bus, pengunjung dapat naik kereta api sampai stasiun Banjar. Dari Banjar, perjalanan dilanjutkan dengan naik bus sampai Pangandaran.
Dari Yogyakarta, pengunjung dapat menggunakan rute Yogyakarta - Cilacap - Banjar - Pangandaran. Jaraknya sekitar 385 kilometer. Selain dengan bus, pengunjung dapat naik kereta api sampai stasiun Banjar. Dari Banjar, perjalanan dilanjutkan dengan naik bus sampai Pangandaran. Di kawasan wisata Pantai Pangandaran terdapat berbagai fasilitas penunjang, seperti areal parkir yang luas dan aman, hotel dan wisma dengan berbagai tipe, tim SAR, pondok wisata, bumi perkemahan, pramu wisata, dan pusat informasi pariwisata.
Di samping itu, di kawasan tersebut terdapat fasilitas lainnya, seperti bank, ATM, money changer, restoran, warung makan, gedung bioskop, diskotik, tempat penyewaan sepeda dan ban, jet ski, kantor pos, wartel, voucher isi ulang pulsa, para sailing, serta sentra oleh-oleh dan outlet cinderamata.

3. Situ Patengan
Situ Patengan atau Situ Patenggang berasal dari bahasa Sunda. Situ berarti danau, sedangkan patengan/patenggang berasal dari kata Pateangan-teangan, yang berarti saling mencari-cari. Konon, ada seorang pangeran bernama Raden Indrajaya dan seorang putri bernama Dewi Rengganis yang saling mencintai. Namun karena keadaan, keduanya terpaksa berpisah. Keduanya dilanda kesedihan berkepanjangan, sampai-sampai air mata mereka berdua menggenang dan membentuk sebuah situ/danau. Akhirnya, karena sudah saling cinta dan saling mencari-cari, keduanya bertemu kembali pada sebuah batu yang kini bernama Batu Cinta. Dewi Rengganis meminta sang pangeran membuatkan sebuah pulau dan sebuah perahu untuk mereka berdua mengelilingi danau. Perahu tersebut kemudian berubah menjadi sebuah pulau berbentuk hati yang diberi nama Pulau Asmara/Pulau Sasaka.
Dari cerita ini berkembanglah sebuah mitos, yaitu bagi pasangan kekasih yang ingin hubungan mereka langgeng, datanglah ke Situ Patengan dan bersama-sama berperahu mengelilingi danau sampai ke Pulau Asmara dan Batu Cinta.
Pengunjung akan terkesan dengan luasnya kawasan wisata Situ Patengan yang mencapai sekitar 60 hektar. Pengunjung tak akan dapat melupakan keindahan alam sekitarnya, seperti areal perkebunan teh Rancabali yang menghampar luas dan rancak, serta kawasan hutan pinus cagar alam Patengan yang asri dan sejuk.
Pengunjung dapat menikmati keindahan panorama alam sekeliling danau dengan speed boat, perahu dayung warna-warni, sepeda air, dan genjot bebek yang disewakan. Bagi pengunjung yang ingin memancing, di kawasan ini terdapat lokasi untuk memancing.
Di sekitar Situ Patengan, terdapat danau-danau kecil yang tak kalah indahnya. Danau-danau ini biasanya dijadikan penduduk sekitarnya sebagai tempat untuk menjala ikan. Bagi pengunjung yang ingin berkemah, di kawasan ini terdapat camping ground yang sangat cocok dilakukan bersama keluarga atau kolega.
Kawasan Situ Patengan terletak di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kawasan ini berjarak sekitar 47 kilometer arah selatan dari pusat kota Bandung. Dari kota Bandung, pengunjung yang membawa kendaraan pribadi dapat langsung menuju kawasan Situ Patengan melewati kota Ciwidey, gerbang utama menuju kawasan wisata Bandung Selatan. Bagi pengunjung yang naik angkutan umum, ada dua alternatif angkutan dari Terminal Bus Leuwipanjang Bandung, yaitu naik angkutan kota (angkot) atau naik bus Sukaraja jurusan Bandung-Ciwidey sampai terminal Ciwidey. Dari terminal Ciwidey, naik bus lagi ke kawasan Situ Patengan. Untuk masuk ke Situ Patengan, para pengunjung dikenai biaya tiket dan apabila pengunjung membawa mobil pribadi, dikenai tambahan biaya parkir.

4. Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda
Rencana untuk menjadikan kawasan THR Ir. H. Djuanda sebagai kawasan hutan lindung telah dirintis sejak tahun 1922. Namun, peresmian sebagai hutan rekreasi baru dilakukan pada tanggal 23 Agustus 1965 berdasarkan SK Menteri Pertanian RI Nomor 575/Kpts/Um/1980.
Kendati demikian, berbagai kalangan masih belum puas bila kawasan yang berada di utara Bandung ini sekadar hutan rekreasi atau taman wisata. Mereka meminta agar kawasan tersebut ditingkatkan lagi fungsinya sebagai sarana pendidikan, penelitian, latihan dan penyuluhan di lapangan terbuka, penyediaan plasma nutfah sumber keturunan, sarana wisata alam, dan peredam banjir/erosi kota Bandung. Pemerintah merespon positif ide tersebut dengan dikeluarkannya SK Presiden RI Nomor 3 Tahun 1985. Pada tanggal 14 Januari 1985, bertepatan dengan peringatan hari kelahiran Ir. H. Djuanda, Presiden Soeharto meresmikan Taman Wisata Curug Dago menjadi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.
Nama Djuanda dipilih bukan semata-mata karena pertimbangan beliau berasal dari Jawa Barat dan keberadaan Taman Hutan Raya di Bandung, namun lebih sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan jasanya untuk bangsa Indonesia. Sebagaimana yang dicatat sejarah, pahlawan nasional kelahiran Tasikmalaya yang memiliki nama lengkap Djuanda Kartawidjaja ini termasuk salah satu aktor intelektual di balik peristiwa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Selain itu, beliau juga pernah menjadi Perdana Menteri di era Demokrasi Terpimpin.
Luas THR Ir. Djuanda mencapai sekitar 527,03 hektar, yang membentang mulai dari kawasan lembah Cikapundung di Dago Pakar sampai ke Maribaya di kawasan lembah perbukitan Dago Utara. Kondisi alam yang demikian memberi ruang yang cukup bebas kepada pengunjung untuk melakukan berbagai kegiatan di kawasan ini.
Hutan di taman ini merupakan hutan sekunder dan hutan tanaman yang memiliki sekitar 2.500 jenis pohon yang termasuk dalam 40 familia dan 112 spesies. Pohon-pohon tersebut didatangkan dari berbagai negara dan daerah di Indonesia
Koleksi flora kawasan ini kian lengkap saja dengan terdapatnya aneka jenis tumbuhan bawahnya yang terawat rapi, seperti teklan (Eupatorium odoratum), ekaliptus (Ecalyptus deglupta), mahoni (Switenia macrophylla), bungur (Lagerstruemia sp), saninten (Cartanopsis argentea), pasang (Quercus sp), damar (Agathis damara), dan waru gunung (Hibiscus similis).
Bila beruntung, pengunjung dapat melihat aneka satwa liar kawasan ini, seperti musang (Paradoxunus hermaproditus), bajing (Callosciurus notatus), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), burung kamata (Zoeteraps palpebrosus), perenjak Jawa (Lonchura leucogastroides), burung cinenen pisang (Orthotomus sutorius), dan ayam hutan (Galus-galus banriva).
Bagi pengunjung yang suka tantangan, di kawasan tersebut terdapat hiking area dengan jarak sekitar 5 kilometer sampai ke kawasan Maribaya.
Bila bosan dengan wisata alamnya, pengunjung dapat mencoba suasana lain, seperti mengunjungi goa bekas terowongan air PLTA Bengkok yang pernah menjadi pusat komunikasi radio tentara Belanda, goa bekas benteng tentara Jepang dari serbuan tentara Belanda dan sekutu, atau mengunjungi museum yang berisi berbagai koleksi piagam dan medali penghargaan yang diraih Ir. H. Djuanda dari dalam dan luar negeri.
Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda terletak di Desa Ciburial, Kecamatan Cicadas, serta Desa Langensari dan Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Kawasan THR Ir. H. Djuanda berjarak sekitar 7 kilometer dari jantung kota Bandung. Kawasan tersebut dapat diakses menggunakan semua jenis kendaraan bermotor. Pengunjung yang menggunakaan kendaraan pribadi dapat langsung menuju lokasi. Pengunjung yang menggunakan angkutan umum, dapat naik angkutan kota jurusan Bandung-Terminal Dago. Dari Terminal Dago, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki, atau naik ojek menuju lokasi.
Di kawasan THR Ir. H. Djuanda terdapat berbagai fasilitas pendukung, seperti pusat informasi pariwisata, areal parkir, jalan yang beraspal mulus menuju lokasi, MCK, dan shelter-shelter.
Selain itu, di kawasan tersebut terdapat kafe terapung di atas kolam penampung air PLTA Bengkok. Pihak kafe menyediakan perahu bagi pengunjung yang ingin mendatangi kafe tersebut.

5. Gunung Galunggung
Gunung Galunggung merupakan gunung berapi kategori strato (gunung berapi mirip kerucut) dengan ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut (dpl) atau sekitar 1.820 meter di atas dataran Tasikmalaya. Dalam sejarahnya, gunung yang menempati areal sekitar 275 kilometer ini pernah meletus beberapa kali. Pertama kali meletus pada tanggal 18 Oktober 1882 dan terakhir kali meletus pada tanggal 5 April 1982.
Letusan terakhirnya bertipe vulcanian vertical (seperti letusan cendawan bom atom), yang semburannya mencapai 20 kilometer ke angkasa. Letusan tersebut juga diikuti dengan semburan piroclastic (debu halus) yang menghujani Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Bandung, dan kota-kota lain yang berada dalam radius 100 kilometer dari Gunung Galunggung.

6. Pantai Karang Hawu
Pantai Karang Hawu merupakan salah satu pantai yang cukup terkenal di Sukabumi, Jawa Barat. Karang dan tebingnya yang menjorok ke laut merupakan ciri khas panorama alam di pantai ini. Disebut Pantai Karang Hawu karena di area pantai ini terdapat sebuah karang yang menjorok ke laut dan berlubang di beberapa bagiannya yang membentuk seperti tungku (tungku dalam bahasa Sunda disebut hawu). Konon, salah satu tebing itu merupakan tempat Nyai Roro Kidul (putri Prabu Siliwangi) mencemburkan diri ke laut karena frustasi dengan penyakit yang dideritanya. Setelah mencemburkan diri, akhirnya penyakit sang putri itu sembuh, tapi konsekuensinya sang putri harus tinggal di laut dan tidak bisa kembali ke bumi lagi. Sang putri itulah yang kemudian disebut Nyai Roro Kidul, penguasa laut selatan. 
Pantai Karang Hawu memiliki panorama alam yang indah, udaranya sejuk, dan hamparan pasirnya yang luas dan lembut. Di tempat ini, pengunjung dapat melakukan aktivitas seperti surfing, berenang, dan memancing. Selain itu, pengunjung juga dapat berlari-lari, jalan santai, maupun duduk bersantai di atas pasir yang lembut sambil menghirup udaranya yang sejuk dan melihat tebing dan karang yang tampak menakjubkan.
Konon, karang yang menjorok ke laut itu merupakan singgasana Nyai Roro Kidul, penguasa Laut Selatan. Pada beberapa cekungan batu karang itu terdapat genangan air yang jernih. Banyak para pengunjung yang memanfaatkan air itu untuk mandi atau membasuh mukanya karena hal itu diyakini dapat membawa berkah. Bahkan tak sedikit pengunjung yang sengaja memasukan air tersebut ke dalam botol untuk dibawa pulang. Tak jauh dari bibir pantai juga terdapat dua pegunungan yang nampak asri, yaitu Pegunungan Winarum dan Pegunungan Rahayu. Untuk menuju puncak pegunungan itu, pengunjung harus berjalan kaki melalui jalan setapak. Selama pendakian pengunjung juga dapat menikmati indahnya suasana pantai dari ketinggian.
Di puncak Pegunungan Winarum tersebut, terdapat makam dan petilasan yang dikeramatkan, yaitu makam Syeh Hasan Ali, seorang ulama besar dan cukup terkenal di daerah Sukabumi. Pada zaman dulu di bukit ini juga pernah dijadikan tempat pertemuan 40 ulama besar dalam mengatur strategi penyebaran agama Islam di daerah selatan Sukabumi. Selain itu, terdapat juga sebuah rumah yang dipercaya sebagai tempat persinggahan penguasa laut selatan (Nyai Roro Kidul) beserta dayang (pembantu) setianya. Kemudian di puncak Pegunungan Rahayu terdapat makam seorang tokoh penyebar agama Islam yang bernama Raden Dikudratullah dan Raden Cengkal, keduanya adalah keturunan dari Sunan Gunung Jati.
Pantai Karang Hawu terletak di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat, Indonesia. Untuk menuju obyek wisata Pantai Karang Hawu Sukabumi cukup mudah karena dapat dijangkau dari berbagai kota di sekitarnya dengan menggunakan kendaraan pribadi (mobil) maupun sarana angkutan umum seperti bus dan taksi. Jika pengunjung menggunakan sarana angkutan umum (bus), maka perjalanan dapat dimulai dari Terminal Pelabuhan Ratu. Perjalanan dari Terminal Pelabuhan Ratu sampai ke lokasi kurang lebih dibutuhkan waktu 20 menit, karena jarak antara terminal dengan lokasi hanya sekitar 14 km.
Di area Pantai Karang Hawu terdapat fasilitas seperti hotel, mini market, warung makan, warung telekomunikasi, mushala, area parkir yang luas, tempat persewaan peralatan surfing, serta kios suvenir, buah-buahan, dan lain-lain.

7. Air Terjun Curug Cimahi
Berwisata ke Bandung, kota yang cukup terkenal dengan obyek wisata alam Gunung Tangkuban Perahu, terasa kurang lengkap sebelum menikmati kesegaran dan kehijauan pemandangan alam obyek wisata Air Terjun Curug Cimahi. Curug Cimahi berasal dari kata curug (bahasa Sunda) yang berarti air terjun. Sedangkan kata Cimahi berasal dari nama sungai yang mengalir di atasnya, yaitu Sungai Cimahi yang berhulu di Situ (danau) Lembang.
Obyek wisata ini mulai dibuka untuk umum pada tahun 1978, dengan menempati area seluas 2 hektar dan merupakan obyek wisata air terjun tertinggi di antara air terjun lainnya di Bandung, dengan ketinggian sekitar 85 meter.
Menurut cerita yang berkembang dalam masyarakat setempat, menadahkan badan di bawah siraman air terjun ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit, terapi kesehatan, dan pembangkit aura. Sebab, air terjun tersebut memancarkan aura positif yang akan membantu meningkatkan energi tubuh dan memacu proses kesembuhan.
Dalam jarak belasan meter, pengunjung sudah dapat merasakan kesejukan air terjun dan melihat jernihnya aliran air terjun. Dengan kondisi air yang seperti itu, wisatawan dapat mandi, beredam, atau bermain-main pada air terjun tersebut sambil melihat cipratan air yang mirip dengan butiran mutiara. Pada waktu tertentu, wisatawan juga dapat melihat pelangi yang tampak indah di lokasi ini. Untuk menuju lokasi air terjun, pengunjung harus menuruni jalan setapak berundak-undak sebanyak 520 undakan yang terbuat dari batu kali. Di sebelah kiri jalan merupakan dinding bukit yang berupa tanah. Sedangkan di bagian kanan jalan terdapat pagar pengaman yang terbuat dari kayu sebagai pelindung dari jurang yang berada di bawahnya. Selama menyusuri jalan berundak itu, pengunjung akan melihat pemandangan alam yang indah di sekitar lokasi air terjun, satwa-satwa liar seperti burung yang bertengger di ranting-ranting pohon, dan monyet yang saling berkejaran dari satu ranting ke ranting pohon yang lain. Untuk menuju air terjun tersebut dibutuhkan waktu sekitar 20—30 menit dari pintu masuk.
Obyek wisata Air Terjun Curug Cimahi terletak di Jalan Kolonel Masturi, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat, Indonesia.
Wisatawan yang ingin berkunjung ke obyek wisata Curug Cimahi, dapat menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Jika wisatawan menggunakan kendaraan pribadi (mobil) dari pusat Kota Bandung, perjalanan dapat menyusuri jalur Ciheudeung menuju Cisarua dengan waktu sekitar 1 jam perjalanan.
Namun, jika pengunjung menggunakan kendaraan umum (bus), perjalanan dapat dimulai dari Terminal Pasar Atas Cimahi atau Terminal Lembang, Kabupaten Bandung. Jika memulai perjalanan dari Terminal Pasar Atas Cimahi, wisatawan dapat naik bus jurusan Cimahi—Cisarua. Namun, jika memulai perjalanan dari Terminal Lembang, para pelancong dapat naik bus jurusan Lembang—Cisarua dan turun di depan gerbang obyek wisata Curug Cimahi ini.

8. Gunung Tangkuban Perahu
Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung berapi yang terdapat di Jawa Barat. Gunung ini disebut Tangkuban Perahu karena bentuknya mirip dengan perahu yang terbalik. Kata “tangkuban`` (bahasa Sunda) berarti terbalik. Gunung yang memiliki ketinggian kurang lebih 2.084 meter di atas permukaan laut ini mempunyai berbagai macam kawasan hutan, yaitu hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous.
Menurut sejarah, gunung ini pernah meletus pada tahun 1910 dengan kekuatan 2 Skala Richter. Akibat letusan itu terbentuklah banyak kawah yang sering mengeluarkan asap belerang ke dataran rendah yang berada di bawahnya.
Menurut cerita masyarakat setempat, asal muasal terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu berasal dari legenda Sangkuriang, anak seorang wanita cantik yang bernama Dayang Sumbi. Sewaktu kecil Sangkuriang diusir oleh ibunya karena telah membunuh seekor anjing (ayah Sangkuriang yang menjelma/berubah bentuk menjadi anjing). Dayang Sumbi dan Sangkuriang kemudian berpisah selama bertahun-tahun. Setelah Sangkuriang dewasa, akhirnya mereka bertemu. Pertemuan itu membuat Sangkuriang jatuh cinta dan ingin menikahi Dayang Sumbi. Namun, Dayang Sumbi menolaknya karena ia tahu bahwa Sangkuriang adalah anak kandungnya. Untuk menolak permintaan itu, Dayang Sumbi mengajukan syarat untuk dibuatkan perahu dalam waktu semalam. Karena gagal menyelesaikan perahu itu, Sangkuriang marah lalu menendang perahu itu hingga terlempar dan kemudian menjadi sebuah gunung yang mirip dengan perahu terbalik.

9. Pantai Pelabuhan Ratu
Pelabuhan Ratu, itulah nama pantai yang terletak kurang lebih 60 km arah selatan Kota Sukabumi ini. Pantai ini merupakan salah satu obyek wisata kebanggaan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Obyek wisata ini cukup terkenal berkat panorama alamnya yang indah, udaranya yang sejuk, dan hamparan pasirnya yang luas.
Di samping keindahan alamnya, Pantai Pelabuhan Ratu juga terkenal dengan pesta laut, yaitu melarungkan kepala kerbau dan sesaji lainnya ke tengah laut. Tradisi ini diselenggarakan oleh para nelayan setempat setiap tanggal 5 April setahun sekali. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah diberikan berupa hasil tangkapan ikan. Acara pesta laut ini biasanya disertai pula dengan berbagai kegiatan seperti bakti sosial, lomba-lomba, dan pementasan hiburan (wayang, dangdut, drumband, tari-tarian, dan lain-lain). Tradisi ini berlangsung selama 2 hari satu malam. Untuk mengikuti acara tersebut tidak dipungut biaya.

10. Pemandian Cibulan
Pemandian Cibulan merupakan obyek wisata yang memadukan antara wisata alam dan wisata ziarah. Obyek wisata yang menempati lahan seluas 5 hektar ini mulai dibuka untuk umum sekitar tahun 1960, yang terdiri dari dua buah kolam renang yang jernih. Ukuran kolam dan kedalaman air dari kedua kolam itu berbeda, sehingga pengunjung dapat memilih sesuai dengan keinginannya. Kolam pertama mempunyai panjang 35 m, lebar 15 m, dengan kedalaman air sekitar 2 m, sedangkan kolam kedua panjangnya 45 m, lebar 15 m yang dibagi ke dalam dua bagian kedalaman air, yaitu 60 cm dan 120 cm.
Pemandian Cibulan juga terkenal dengan sumur tujuh, petilasan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjadjaran. Pada zaman dulu, Prabu Siliwangi pernah beristirahat di kompleks pemandian ini ketika pulang dari perang Bubat. Di tempat ini, pasukan Prabu Siliwangi menggali tujuh buah mata air (sumur). Setelah memperoleh beberapa meter galian, tiba-tiba keluarlah air dari hasil galian itu. Air yang keluar dari tujuh mata air itu cukup jernih dan tidak pernah habis dipakai walaupun diambil dalam jumlah yang banyak pada musim kemarau.
Tempat wisata pemandian Cibulan airnya jernih dan lokasinya rindang karena banyak pepohonan yang hidup di sekitar area pemandian itu. Di kolam ini pengunjung dapat berenang bersama ikan besar yang diberi nama ikan Kancra Bodas (Labeobarbus Dournesis), ada juga yang menyebutnya dengan Ikan Keramat atau Ikan Dewa.
Keistimewaan lain dari obyek wisata pemandian Cibulan adalah terdapatnya tujuh sumber mata air (sumur) yang dipercaya banyak mendatangkan berkah. Ketujuh sumur itu masing-masing mempunyai nama yang berbeda-beda, yaitu Sumur Kejayaan, Sumur Kemulyaan, Sumur Pangabulan, Sumur Cirancana, Sumur Cisadane, Sumur Kemudahan, dan Sumur Keselamatan. Ketujuh mata air itu keberadaannya mengelilingi petilasan Prabu Siliwangi yang berupa menhir dan dua patung harimau loreng, lambang kebesaran Raja Agung Kerajaan Padjadjaran. Di sumur yang keempat, konon terdapat kepiting emas yang dipercaya oleh masyarakat setempat dapat membawa berkah. Bagi pengunjung yang dapat melihat kepiting emas itu, maka segala keinginannya akan terkabul. Sumur yang berada di dalam area pemandian itu, banyak dikunjungi wisatawan pada hari biasa maupun hari libur. Bagi wisatawan yang ingin mencari berkah di sumur tujuh tersebut, biasanya datang pada hari-hari tertentu, yaitu Jum‘at Kliwon, 1 Muharram, menjelang Ramadhan, Idulfitri, dan Iduladha. Para pengunjung yang berziarah biasanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk mandi dari ketujuh mata air (sumur) itu.
Wisata Pemandian Cibulan berada di Desa Maniskidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Propinsi Jawa Barat, Indonesia. Banyak angkutan umum yang dapat mengantarkan wisatawan menuju lokasi obyek wisata pemandian Cibulan ini, baik dari Kota Cirebon maupun Kuningan. Jika pengunjung memulai perjalan dari Kota Cirebon, dapat naik angkutan kota sampai di lokasi. Pengunjung juga dapat memulai perjalanan dari Terminal Kuningan. Dari terminal ini, pengunjung naik angkutan kota jurusan Cirendang—Cilimus, sampai di lokasi. Perjalanan dari Kuningan menuju lokasi akan menempuh jarak kurang lebih 7 km.
Memasuki obyek wisata pemandian Cibulan, pengunjung harus membayar tiket masuk. Namun, jika wisatawan datang pada hari libur terdapat kenaikan harga tiket masuk.

11. Taman Wisata Mekar Sari
Berkunjung ke Bogor terasa kurang lengkap jika belum menikmati indahnya obyek wisata alam Taman Wisata Mekarsari. Obyek wisata seluas 264 hektar ini memiliki pemandangan alam yang indah dan ditumbuhi aneka jenis buah-buahan. Lokasi wisata ini juga cukup strategis sehingga mudah dijangkau pengunjung dari berbagai arah.
Taman yang dibangun pada tahun 1990 ini merupakan pusat budidaya tanaman buah terlengkap di Indonesia. Setelah lima tahun masa pembangunannya, akhirnya taman ini diresmikan pada tahun 1995 oleh Presiden Suharto. Taman yang didirikan oleh Ibu Tien Suharto ini pada mulanya bernama Taman Buah Mekarsari. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pada tahun 2004 taman ini kemudian direnovasi dan berubah nama menjadi Taman Wisata Mekarsari.
Di area Taman Wisata Mekarsari ini, pengunjung dapat melihat kebun buah yang di dalamnya terdapat berbagai jenis tanaman buah (rambutan, mangga, belimbing, jambu, dan lain sebagainya). Di area taman wisata ini pengunjung juga boleh memetik buah-buahan yang disukai untuk dimakan di tempat, dengan syarat tidak merusak tanaman. Selain berbagai jenis buah-buahan tersebut, pengunjung juga dapat melihat areal pembibitan dan persemaian, areal rumah plastik, wahana outbound, kebun sayur, kolam pemancingan, tanaman buah dalam pot, dan lain sebagainya.
Salah satu area yang paling banyak dikunjungi wisatawan saat berada di Taman Wisata Mekarsari yaitu area rumah plastik. Di dalam lokasi rumah plastik ini, pengunjung dapat melihat beberapa tanaman melon dari berbagai jenis, di antaranya golden light, jade flower, glamour, golden langkawi, dan renong. Berbagai jenis melon ini berasal dari bibit unggul dan berkualitas baik yang didatangkan dari dalam maupun luar negeri. Bagi pengunjung yang menginginkan buah-buahan ini atau sekedar bibit tanamannya, dapat membeli di lokasi persemaian rumah plastik ini dengan harga yang cukup terjangkau.
Setelah puas menikmati aneka buah dan lahan pembibitannya, selanjutnya pengunjung dapat menikmati beberapa permainan seperti Floating Donat, Giant Bubble, Kano, Becak Air, Aqua Bike, dan naik perahu yang terbuat dari kayu. Uniknya, Giant Bubble merupakan jenis permainan yang tergolong langka dan jarang terdapat di obyek wisata lain di Indonesia. Selain itu, banyak juga para pengunjung yang sekedar memanfaatkan kunjungannya hanya untuk berjalan-jalan menikmati indahnya taman sambil menghirup udaranya yang sejuk segar.
Di musim liburan, kawasan wisata ini biasanya ditambah dengan fasilitas pentas hiburan terbuka seperti Tarian Kendang Waroja, Rampak Beduk, dan berbagai macam tarian khas Jawa Barat lainnya. Tak hanya itu, bagi Anda wisatawan muda yang gemar dengan musik, di musim liburan biasanya juga dipentaskan musik dangdut dan band oleh artis-artis terkenal. Untuk menyaksikan pentas ini, pengunjung tidak dipungut biaya.
Pengalaman lain yang tak kalah menariknya saat berkunjung di Taman Wisata Mekarsari ialah indahnya suasana air di Danau Cipicung. Di danau ini, pengunjung dapat berkeliling dengan naik perahu motor. Saat berkeliling, pengunjung akan melihat indahnya jembatan yang melintang di atas danau. Jembatan besi yang berwarna merah itu nampak eksotik jika dilihat dari kejauhan. Banyak pengunjung yang datang menyaksikan keindahan jembatan ini sekaligus memanfaatkannya untuk berfoto-foto. Bagi pengunjung yang gemar akan suasana alam, lokasi camping ground di taman ini juga cocok bila digunakan sebagai tempat menginap. Lokasi camping ground ini cukup bersih, kondisinya rindang, dan ditumbuhi rerumputan yang menghijau. Bagi pengunjung yang ingin memanfaatkan lokasi ini untuk kemah berombongan tak perlu cemas dengan fasilitas pendukungnya, sebab sudah tersedia sound system, tenda pleton, tikar, panggung permainan, dan lain-lain sesuai dengan permintaan. Bagi Anda yang ingin melihat keindahan alam Taman Mekarsari dan kota Bogor dari ketinggian, dapat menuju tower setinggi 30 meter yang berada di kawasan ini. Dari atas tower ini, wisatawan akan melihat hijaunya dedaunan taman dan suasana Kota Bogor dari ketinggian.
Taman Wisata Mekarsari merupakan obyek wisata yang memadukan antara unsur Konservasi, Reboisasi, Edukasi, dan Rekreasi. Sehingga, dengan berekreasi di obyek wisata ini, pengunjung sekaligus juga dapat menikmati indahnya alam sambil menambah wawasan baru. Tak hanya itu, di tempat ini pengunjung juga dapat berbelanja berbagai macam buah segar, menanam tanaman buah, atau hanya sekedar memberi pupuk pada tanaman yang ada. Untuk menikmati obyek wisata Taman Buah Mekarsari ini, pengunjung dapat menyusuri setiap areal perkebunan dengan berjalan santai ataupun menggunakan sarana angkutan kereta mini yang terdapat di taman ini.
Taman Wisata Mekarsari terletak di Jalan Raya Cielungsi—Jonggol km 3, tepatnya di Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Indonesia.
Untuk menuju Taman Wisata Mekarsari cukup mudah karena terletak di pinggir jalan dan mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi (mobil) maupun kendaraan umum (bus), baik dari Jakarta, Bogor, maupun Bekasi. Jika pengunjung memulai perjalanan dari UKI (Universitas Kristen Indonesia), maka pengunjung dapat naik bus jurusan UKI—Cileungsi, dan turun di Cileungsi. Setelah itu, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan dengan naik angkutan kota jurusan Cileungsi—Jonggol, kemudian turun di lokasi. Bagi pengunjung yang berangkat dari Kampung Rambutan, dapat menuju kawasan wisata ini dengan naik angkutan kota dengan nama Kowanbisata jurusan Kampung Rambutan—Jonggol. Sedangkan jika pengunjung akan memulai perjalanan dari Bogor, maka pengunjung dapat naik angkutan kota Kowanbisata jurusan Bogor—Jonggol, dan turun di lokasi. Tak hanya itu, pengunjung dapat pula memulai perjalanan dari Bekasi dengan naik bus Kowanbisata jurusan Bekasi—Jonggol dan turun tepat di depan gerbang masuk obyek wisata Taman Wisata Mekarsari. Sedangkan bagi Anda yang menggunakan kendaraan pribadi (mobil) dari tol Cibubur, perjalanan untuk menuju obyek wisata ini biasanya dibutuhkan waktu sekitar 20—30 menit untuk sampai di lokasi.
Bagi pengunjung yang ingin memasuki Taman Wisata Mekarsari, dikenakan tiket masuk per orang. Namun, jika pengunjung ingin menikmati fasilitas yang ada seperti kereta mini, maka setiap pengunjung harus mengeluarkan ongkos tambahan. Sedangkan bagi pengunjung yang ingin menikmati permainan-permainan air: Perahu Naga, Kano, Banana Boat, Angsa Air, Aqua Bike, Floating Donat, dan Giant Bubble, maka terdapat tarif lagi per orang. Selain beberapa permainan itu, terdapat juga paket Out Bond. Taman wisata ini dibuka setiap hari Selasa sampai dengan Minggu, mulai pukul 09.00—16.00 WIB.

12. Situ Gede
Kota Tasikmalaya terletak di antara Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Kota santri ini memiliki beberapa potensi wisata yang cukup mengagumkan, salah satunya adalah Situ Gede. Oleh warga setempat, danau alami ini lebih dikenal dengan nama Situ Ageng. Situ Gede memiliki luas lebih kurang 47 hektar dengan kedalaman air antara 1,5 meter sampai dengan 6 meter. Situ Gede menjadi tempat tujuan wisata favorit karena danau ini merupakan obyek wisata alam satu-satunya yang ada di wilayah pemerintahan Kota Tasikmalaya dan dekat dengan pusat kota. Danau ini merupakan salah satu obyek wisata air yang paling potensial di wilayah Priangan Timur dan dikunjungi oleh cukup banyak pelancong dari dalam maupun luar kota, bahkan dari luar daerah. Berdasarkan data dari situs resmi Pemerintah Kota Tasikmalaya, rata-rata tingkat kunjungan wisatawan ke obyek wisata Situ Gede mencapai 9.950 orang/tahun.
Meski berstatus sebagai obyek wisata alam, perkembangan Situ Gede sebagai sarana irigasi untuk pertanian tidak lepas dari peran pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada 1932, pemerintah kolonial mengembangkan danau alami ini untuk menampung air dari sumber mata air Cikunten yang berhulu di Gunung Galunggung. Air yang ditampung itu kemudian dimanfaatkan untuk mengairi sekitar 4.000 hektar sawah yang terdapat di Kecamatan Kawalu, Mangkubumi, Indihiang, dan Cibeureum. Danau Situ Gede juga berperan sebagai hutan penyeimbang ekosistem di mana banyak tanaman tropis yang tumbuh mengelilingi danau ini. Sebagian besar penduduk di sekitar danau menggantungkan hidupnya pada populasi habitat biota di Situ Gede sebagai sumber penghasil ikan sehingga tidak mengherankan apabila Situ Gede juga kerap dimanfaatkan sebagai tempat untuk mencari ikan, baik dengan cara memancing ataupun menjaring.
Ciri khas yang menjadi daya tarik Situ Gede adalah sebuah pulau yang terdapat di tengah-tengah danau. Di pulau seluas satu hektar tersebut terdapat makam Eyang Prabudilaya, seorang tokoh penguasa pada masa silam yang mitosnya telah menjadi legenda bagi masyarakat Tasikmalaya (Kompas, 3 Maret 2009). Makam Eyang Prabudilaya hingga kini masih dikeramatkan oleh masyarakat sekitar danau. Maka dari itu, selain sebagai obyek wisata alam, Situ Gede juga bisa dijadikan tujuan wisata religi sekaligus wisata sejarah.
Obyek wisata alam Situ Gede menjadi tempat idaman warga Tasikmalaya yang ingin mengisi liburan setiap pekan dengan menikmati keindahan danau yang masih asri. Keindahan danau dan keasrian pemandangan alam merupakan potensi utama yang ditawarkan obyek wisata Situ Gede. Anda bisa leluasa menikmati indahnya Situ Gede dan menyusuri danau dengan rakit yang dapat disewa dengan harga yang relatif murah. Harga sewa rakit untuk mengarungi danau hanya sebesar Rp 10.000.
Sambil menyusuri danau, Anda dapat mengunjungi pulau yang berada di tengah danau untuk berziarah di Makam Eyang Prabudilaya atau hanya sekadar melihat-lihat eloknya persemayaman tokoh yang dihormati warga Tasikmalaya tersebut. Para pengunjung juga dipersilahkan menikmati teduhnya hutan dengan berbagai flora dan fauna yang ada di pulau itu, namun siapapun tidak diperbolehkan melakukan aktivitas perburuan.
Tidak hanya itu, Anda juga akan disuguhi pesona wisata ekologi berupa tumbuh-tumbuhan alami yang banyak terdapat di sekeliling danau sehingga menambah asri pemandangan, ditambah dengan nuansa pedesaan yang sejuk dan segar. Di Situ Gede pula, Anda bisa melakukan beberapa aktivitas lain yang tidak kalah menyenangkan, seperti memancing dan menjaring ikan. Di kios-kios yang banyak terdapat di sekitar danau, disediakan tempat makan yang menyajikan berbagai menu ikan. Setelah perut kenyang dengan sajian wisata kuliner khas Situ Gede, Anda dapat menghabiskan waktu selama mungkin di obyek wisata ini karena panorama Situ Gede di sore hari menjanjikan pesona yang sulit untuk dilupakan.
Obyek wisata Situ Gede berjarak sekitar lima kilometer ke arah barat dari pusat Kota Tasikmalaya, lebih tepatnya terletak di Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Kawasan wisata Danau Situ Gede relatif dekat dengan Kota Tasikmalaya. Akses transportasi untuk mencapai obyek wisata alam ini, selain menggunakan kendaraan pribadi, juga bisa memanfaatkan fasilitas angkutan kota (angkot) Jalur 04 yang berangkat dari Terminal Pancasila di Kota Tasikmalaya. Hanya saja, dari tempat turun angkot, kita masih harus berjalan kaki kira-kira sejauh 1 kilometer untuk mencapai lokasi wisata Situ Gede.
Harga yang dikenakan untuk masuk ke lokasi obyek wisata Situ Gede cukup terjangkau.. Pengunjung yang membawa kendaraan pribadi dikenakan tambahan tarif, Obyek wisata Situ Gede juga menyediakan beberapa fasilitas pendukung, terutama fasilitas untuk berolahraga. Kawasan jalan yang mengitari danau, misalnya, diatur sedemikian rupa sehingga bisa digunakan sebagai lintasan lari bagi pengunjung yang ingin melakukan olahraga jogging. Setiap akhir pekan, banyak pengunjung yang berolahraga di lintasan lari tersebut. Selain itu, Anda juga bisa memanfaatkan berbagai fasilitas lain yang disediakan, antara lain gazebo, taman, dan bumi perkemahan (camping ground). Obyek wisata Situ Gede dilengkapi pula dengan beberapa sarana pendukung, seperti masjid, areal parkir yang luas, serta toilet yang memadai.

13. Kebun Raya Bogor
Menyebut Kebun Raya Bogor, ingatan kita serta merta akan tertuju pada kebun raya pertama di Asia Tenggara yang juga menjadi lokasi Istana Bogor. Sejarah Kebun Raya dan Istana Bogor memang saling terkait erat. Pembangunan Istana Bogor bermula ketika Gubernur Jendral van Imhoff menginginkan tempat rehat yang nyaman di sebuah lokasi yang berhawa sejuk. Maka pada tahun 1745 ia menemukan areal perbukitan yang dia sebut Buitenzorg (artinya bebas masalah/kesulitan). Di tempat inilah kemudian dibangun sebuah pesanggrahan yang selanjutnya dikembangkan menjadi lebih luas dan megah oleh Gubernur Jendral Willem Daendels (1808-1811), Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles (1811-1816), dan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826). Pada masa Daendels didatangkan enam pasang rusa tutul dari perbatasan India dan Nepal untuk memperindah lingkungan Istana Bogor. Sementara pada masa Raffles dirintis sebuah taman yang menjadi cikal bakal kebun raya di lingkungan Istana Bogor (http://www.presidensby.info).
Sebelum dikembangkan lebih jauh oleh para penguasa kolonial, sebenarnya cikal bakal Kebun Raya Bogor telah ada sejak abad ke-15, ketika Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi yang memerintah antara 1474-1513, membuat hutan atau taman buatan yang disebut samida. Dalam prasasti Batutulis disebutkan, hutan buatan ini ditujukan untuk menjaga kelestarian benih-benih kayu langka yang diperlukan oleh kerajaan. Ketika Kerajaan Siliwangi (Sunda) takluk terhadap Banten, hutan inipun tidak terurus.
Pada masa pemerintahan Raffles, lingkungan Istana Bogor disulap menjadi taman bergaya Inggris klasik dengan bantuan seorang ahli botani dari Inggris, W. Kent. Gubernur jenderal yang dikenal memiliki minat besar terhadap ilmu pengetahuan ini menjadikan lingkungan istana sebagai sarana untuk meneliti berbagai tanaman yang hidup di kawasan Hindia Belanda. Hingga sekarang, wisatawan masih bisa menyaksikan salah satu peninggalan Raffles di Kebun Raya Bogor, yakni Monumen Olivia Raffles, sebuah monumen yang didirikan untuk mengenang mendiang istri Raffles yang meninggal pada 1814 (http://id.wikipedia.org).
Setelah Raffles, giliran van der Capellen yang mengembangkan lingkungan Istana Bogor secara lebih serius. Pada tanggal 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama s‘Lands Plantentuinte Buitenzorg. Pendirian kebun raya ditandai dengan menancapkan ayunan cangkul pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan kebun tersebut. Pembangunan kebun raya dipimpin langsung oleh Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt, seorang ahli botani dan kimia yang menjadi Menteri Bidang Pertanian, Seni, dan Ilmu Pengetahuan di Jawa dan sekitarnya. Reinwardt memimpin Kebun Raya Bogor antara tahun 1817 sampai 1822. Pada masa kepemimpinannya itu, ia mengelola areal sekitar 47 hektare serta mengumpulkan tanaman dan benih dari berbagai tempat di Nusantara. Kebun Raya Bogor kemudian menjadi pusat pengembangan pertanian dan holtikultura di Hindia Belanda, dengan sekitar 900 jenis tanaman dikembangkan di kebun raya ini (http://id.wikipedia.org).
Setelah Reinwardt, Kebun Raya Bogor dipimpin oleh Dr. Carl Ludwig Blume yang mulai melakukan inventarisasi tanaman koleksi yang tumbuh di Kebun Raya Bogor. Usaha pencatatan ini berhasil membukukan sekitar 912 jenis (spesies) tanaman. Namun, pada perkembangannya Kebun Raya Bogor sempat mengalami kekurangan dana. Persoalan minimnya dana ini mulai teratasi setelah Johannes Elias Teijsmann, seorang ahli kebun istana Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch, mengambil alih kepemimpinan Kebun Raya Bogor pada tahun 1831. Pada masanya, Teijsmann mengelompokkan tanaman berdasarkan suku (familia).
Setelah Teijsmann, berturut-turut Kebun Raya Bogor dipimpin oleh Prof. Dr. Melchior Treub (1881), Dr. Jacob Christiaan Koningsberger (1904), Van den Hornett (1904), dan Prof. Ir. Koestono Setijowirjo (1949) (http://id.wikipedia.org). Nama terakhir ini merupakan orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai pimpinan kebun raya yang saat itu telah diakui keberadaannya secara internasional. Pada masa kepemimpinan tokoh-tokoh ini, Kebun Raya Bogor berhasil mengumpulkan berbagai tanaman yang berguna dan bernilai secara ekonomis, seperti vanili, kelapa sawit, kina, getah perca, tebu, ubi kayu, jagung, serta kayu besi.
Pengelola Kebun Raya Bogor juga mengembangkan kelembagaan internal demi mengkhususkan pada pengembangan objek kajian tertentu. Lembaga-lembaga tersebut antara lain jawatan Herbarium, Museum, Laboratorium Botani, Kebun Percobaan, Laboratorium Kimia, Laboratorium Farmasi, Cabang Kebun Raya di Sibolangit (Deli Serdang), Cabang Kebun Raya di Purwodadi (Kabupaten Pasuruan), Perpustakaan dan Tata Usaha, serta Pendirian Kantor Perikanan dan Akademi Biologi yang merupakan cikal bakal Insitut Pertanian Bogor (IPB).
Kerusakan akibat bencana badai pernah dialami Kebun Raya Bogor pada 1 Juni 2006. Badai kencang menerjang areal kebun raya hingga menumbangkan sekitar 124 pohon besar yang sebagian di antaranya berusia di atas 100 tahun. Pohon-pohon tua tersebut tumbang dan merusak berbagai tanaman lain serta sarana dan fasilitas di kebun raya. Akibat kerusakan yang menimbulkan kerugian miliaran rupiah tersebut, Kebun Raya Bogor sempat ditutup untuk sementara waktu.
Kebun Raya Bogor merupakan habitat seluas 87 hektare bagi sekitar 3.504 spesies tumbuhan, yang terbagi ke dalam 1.273 genera dan 199 famili. Tidak mengherankan jika kebun raya ini tercatat sebagai kebun botani terbaik keenam di dunia dan terbaik pertama di Asia Tenggara. Koleksi yang kaya dengan areal yang begitu luas tentu saja menjadi daya tarik bagi wisatawan dari dalam maupun luar negeri.
Obyek wisata ini cocok bagi Anda yang ingin berlibur bersama keluarga. Arealnya yang luas bisa untuk bermain dan bersantai sembari menghirup udara segar, sedangkan berbagai koleksi tumbuhan dan hewan awetan yang dimiliki oleh kebun raya ini merupakan sarana pendidikan yang menarik dan cocok bagi semua kalangan.
Memasuki gerbang utama Kebun Raya Bogor, Anda akan disambut oleh dua patung Ganesha yang melambangkan kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan dalam kepercayaan Hindu. Nah, dari pintu gerbang ini wisatawan dapat memilih beberapa rute untuk ditelusuri. Mengingat arealnya yang luas, sebaiknya Anda memilih untuk melewati beberapa rute saja, sehingga dapat lebih fokus menikmati kawasan yang Anda lalui. Terdapat empat rute jalan kaki sebagaimana ditulis di dalam buku Panduan Kebun Raya Bogor yang terbit tahun 1997.
Rute Pertama dimulai dari gerbang utama. Rute ini dapat dilalui kereta anak dan kursi roda, sehingga bagi Anda yang membawa anak atau pengunjung yang menggunakan kursi roda dapat memilih rute ini. Dari pintu utama wisatawan akan memasuki jalan setapak sepanjang 450 meter dengan nama jalan kenari I. Nama ini diambil dari pohon-pohon kenari (Canarium commune) yang menghiasi bagian kanan-kiri jalan. Di perempatan pertama, wisatawan belok ke arah kiri, memasuki sebuah jalan setapak yang dilengkapi pergola (para-para peneduh dengan tanaman merambat). Di musim hujan, pergola tersebut akan semakin indah dengan bunga-bunga berwarna hijau yang mulai mekar.
Berjalan lurus dari jalur ini, wisatawan akan berjumpa dengan Laboratorium Treub yang khusus digunakan untuk penelitian fisiologi dan biokimia tumbuhan. Nama laboratorium ini diambil dari nama pendirinya, yakni Prof. Dr. Melchior Treub. Di sebelahnya berdiri bekas rumah direktur kebun raya pada jaman kolonial, yang dibangun pada 1884, bersamaan dengan pendirian Laboratorium Treub. Bekas rumah direktur kebun raya tersebut saat ini telah difungsikan sebagai rumah inap yang dapat disewa oleh masyarakat umum.
Di seberang rumah inap terdapat rimbunan tumbuhan yang salah satunya adalah maskot Kebun Raya Bogor, yaitu Amorphophallus titanum alias bunga bangkai. Bunga yang berasal dari Sumatra ini termasuk ke dalam suku talas-talasan (Araceae). Dalam bidang botani, bunga raksasa ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1878 oleh seorang ahli botani asal Italia bernama Beccari. Namun, baru 37 tahun kemudian, yakni tahun 1915, Kebun Raya Bogor mulai mengoleksi tanaman ini. Bunga bangkai memang istimewa. Bunga dengan tinggi hingga 2 meter ini hanya muncul dengan siklus antara 2-5 tahun. Selain identik dengan bau bangkainya yang menyengat, bunga ini memiliki warna-warni yang mempesona: paduan antara ungu lembayung, kuning, merah, dan hijau kekuning-kuningan. Berjalan terus dari kompleks bunga bangkai, kemudian berbelok ke arah kanan, wisatawan akan sampai di ujung Jalan Kenari I. Dari tempat ini, para pelancong dapat menikmati pemandangan halaman belakang Istana Bogor, yang makin cantik dengan keberadaan kawanan rusa bertutul putih (Axis-axis) yang berkeliaran di padang rumput. Rusa-rusa ini merupakan hasil pengembangbiakan rusa-rusa yang dibawa Gubernur Jenderal Daendels dari perbatasan India dan Nepal. Rute Kedua juga dimulai dari perempatan pertama Jalan Kenari I. Namun bedanya, jika rute pertama berbelok ke arah kiri, maka rute kedua berbelok ke arah kanan. Berjalan sekitar 20 meter dari perempatan tersebut, pengunjung akan sampai pada lokasi pohon kempas atau kayu raja (Koompassia excelsa). Pohon yang berasal dari Kalimantan ini adalah pohon raksasa dengan tinggi mencapai 50 meter dan diamater 1,5 meter. Usia pohon ini mencapai 85 tahun, dan dikenal sebagai pohon yang kuat, keras, dan berat.
Usai menikmati pemandangan pohon raksasa yang tinggi menjulang, pengunjung dapat beralih ke Blok II A dan Blok II C yang menyajikan tanaman-tanaman penghasil serat rami yang biasa digunakan untuk tali, tikar, dan jaring ikan. Belok kanan dari blok ini, pelancong akan disuguhi koleksi pandan yang tatanannya cukup indah. Setelah itu, pelancong akan melewati jembatan yang melintas di atas Sungai Ciliwung yang mengarah ke Kolam Victoria, di mana terdapat bunga teratai raksasa (Victoria amazonica) yang berasal dari hutan Amazon, Brazil. Teratai raksasa ini bergaris tengah antara 1-1,5 meter, sementara bunganya yang berwarna putih muncul seminggu sekali. Bunga tersebut cukup unik karena dalam tempo 2-3 hari berganti warna menjadi merah jambu.
Keunikan lainnya jika wisatawan melintasi rute dua adalah keberadaan pohon tertua di Kebun Raya Bogor, yakni pohon leci (Litchi chinensis). Pohon ini terletak di pinggir Kolam Gunting dan ditanam sekitar tahun 1823, atau sekitar 186 tahun yang lalu. Pohon yang dibawa dari Cina ini tumbuh dalam kondisi baik hingga saat ini. Namun, karena usianya yang terbilang tua, pohon leci tersebut tidak lagi berbuah.
Rute Ketiga mengikuti jalur rute kedua hingga areal Blok I. Dari Blok I, rute ketiga mengambil jalur lurus menuju Taman Meksiko. Di taman ini terdapat berbagai macam tanaman dari daerah kering di Amerika Latin. Dari Taman Meksiko wisatawan akan melewati jembatan gantung pertama menuju sebuah kawasan yang mirip dengan hutan. Di hutan ini ada tumbuhan paku-pakuan, tanaman rempah-rempah, hingga kayu ulin atau kayu besi (Eusideroxylon zwageri). Kayu ulin terkenal kuat dan mampu bertahan hingga 80 tahun. Tak heran jika kayu ini sering digunakan sebagai bahan untuk bantalan rel kereta api.
Selepas hutan, pengunjung akan melewati Kolam Victoria, kemudian menyeberangi Sungai Ciliwung melalui jembatan gantung kedua. Setelah melintasi Sungai Ciliwung, pelancong akan diperlihatkan koleksi sekitar 288 spesies palem yang dimiliki oleh kebun raya ini. Jumlah koleksi tersebut merupakan jumlah koleksi palem terbesar di dunia. Beberapa di antaranya adalah pohon aren dan lontar yang merupakan pohon penghasil gula. Selain itu, ada juga pohon kelapa dan kelapa sawit. Yang menarik, kelapa sawit yang ditanam di perkebunan-perkebunan di Asia Tenggara merupakan turunan dari koleksi pertama pohon sawit yang ditanam di Kebun Raya Bogor. Namun sayangnya, pohon sawit pertama tersebut telah mati pada 15 Oktober 1989.
Hal lain yang dapat dilihat di rute ketiga ini adalah pohon kalong atau pohon damar (Agathis dammara). Dinamakan pohon kalong karena pohon tersebut merupakan tempat berlindung kalong buah (Pteropus vampyrus) yang biasanya mencari makan pada malam hari. Hewan ini termasuk kelelawar besar dengan moncong mirip anjing dan rentang sayap mencapai 1,5 meter. Kalong buah biasanya mencari tempat berlindung di pohon-pohon yang tinggi, salah satunya pohon-pohon damar tersebut.
Rute Keempat adalah rute penjelajahan yang dimulai dari Cafe Botanicus, mengikuti jalan beraspal menuju ujung Jalan Astrid. Dari Jalan Astrid, wisatawan mengikuti jalan beraspal yang berada di sisi taman rumput. Di sekitar taman rumput terdapat anggrek macan yang menempel di sebatang pohon. Anggrek macan cukup istimewa karena memiliki panjang tangkai bunga antara 1-2 meter. Setiap tangkai biasanya memiliki lebih dari 100 bunga, sehingga dapat memantik kagum siapapun yang melihatnya. Bunga anggrek ini hanya berbunga setiap dua tahun sekali.
Usai menikmati bunga anggrek macan, wisatawan akan melintasi jembatan gantung. Namun, sebelum itu, Anda dapat menikmati pemandangan Jalan Kenari II yang di kanan-kirinya ditumbuhi pohon kenari. Uniknya, pohon-pohon kenari tersebut dililit oleh liana yang merupakan tanaman merambat dengan batang kayu rambat yang kuat. Liana ini juga dikenal dengan sebutan “pohon Tarzan”, karena dalam film Tarzan tanaman merambat ini digambarkan sebagai sarana Tarzan melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Melewati jembatan gantung, pelancong akan sampai di makam Mbah Jepra yang dilingkupi dua pohon raksasa. Pohon pertama berjenis beringin (Ficus albipila) tetapi berkulit licin coklat-hijau. Beringin unik ini diduga merupakan spesimen satu-satunya di Indonesia. Sementara satu lagi adalah pohon meranti bunga (Shorea leprosula). Dua pohon raksasa ini ditanam sekitar tahun 1870. Usai menikmati lingkungan makam Mbah Jepra, pengunjung kemudian mengikuti jalan setapak menuju sisi lain dari halaman Istana Bogor. Di tempat ini, wisatawan dapat menonton rusa-rusa bertutul putih yang sedang merumput di halaman istana.
Selain memiliki koleksi ribuan tanaman dari dalam dan luar negeri, Kebun Raya Bogor juga merupakan habitat bagi beraneka jenis burung. Terdapat sekitar 50 jenis burung hidup dan berkembangbiak secara alami di tempat ini. Beberapa di antaranya adalah kepodang, walik kembang, kutilang, kowak, dan kuntul.
Tak hanya burung-burung yang hidup secara alami, Kebun Raya Bogor mengembangkan pula koleksi berupa replika binatang dan koleksi awetan binatang yang dipamerkan di Museum Zoologi. Museum ini misalnya memamerkan replika kerangka tulang ikan paus raksasa yang terdampar di perairan Indonesia. Di samping replika tiruan, Museum Zoologi juga memamerkan berbagai jenis binatang awetan, seperti serangga, reptil, unggas, cacing, hingga mamalia.
Kebun Raya Bogor terletak di jantung Kota Bogor, yaitu di Jalan Ir. H. Juanda No. 13, Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Pengelolaan kebun raya ini berada di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Untuk memperoleh informasi lebih lanjut, wisatawan dapat menghubungi Bagian Jasa dan Informasi Kebun Raya Bogor di nomor telepon/fax 0251-8311362.
Wisatawan yang berminat mengunjungi Kebun Raya Bogor dapat menempuh perjalanan dari Jakarta. Dari ibu kota negara ini, Anda dapat menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan kendaraan umum (bus maupun kereta api). Sarana transportasi umum Jakarta-Bogor umumnya cukup ramai, sehingga wisatawan tak perlu khawatir kesulitan memilih kendaraan yang diinginkan. Sesampainya di terminal atau stasiun di Kota Bogor, wisatawan dapat menggunakan jasa angkutan kota atau taksi untuk menuju Kebun Raya Bogor. Kebun Raya Bogor buka setiap hari dari pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB. Tiket masuk Kebun Raya Bogor adalah sudah termasuk bea masuk Museum Zoologi, sehingga bagi Anda yang telah membeli tiket Kebun Raya Bogor digratiskan untuk menikmati koleksi Museum Zoologi. Namun, jika wisatawan sekedar ingin mengunjungi Museum Zoologi (tidak mengunjungi kebun raya secara keseluruhan), pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk museum. Selain tiket masuk, pelancong yang membawa kendaraan pribadi akan dikenakan biaya tambahan parkir untuk setiap kendaraan.

14.  Green Canyon (Cukang Taneuh)
Selama ini kita tentu sering mendengar tentang eksotisme obyek wisata Grand Canyon yang terletak di daerah utara Arizona, Amerika Serikat. Grand Canyon merupakan fenomena alam yang berbentuk jurang dan tebing terjal serta dialiri oleh Sungai Colorado. Bagi Anda yang memendam keinginan kuat untuk mengunjungi tempat tersebut namun terkendala oleh biaya, Anda jangan kecewa. Satu hal yang perlu Anda ketahui bahwa Indonesia juga memiliki obyek wisata serupa. Di daerah Jawa Barat, terdapat aliran sungai yang diapit oleh tebing yang menjulang sehingga menciptakan pemandangan yang sangat eksotis dan nyaris persis dengan pemandangan di Grand Canyon Amerika. Oleh karena itulah, pesona alam di tanah Pasundan tersebut diberi nama Green Canyon.
Pada awalnya, obyek wisata eksotis ini bernama Cukang Taneuh yang berarti “jembatan tanah”. Hal itu dikarenakan di hulu aliran Sungai Cijulang terdapat sebuah jembatan tanah dengan lebar 3 meter dan panjang 40 meter. Jembatan tersebut menghubungkan Desa Kertayasa dan Desa Batukaras yang dipisahkan oleh tebing yang tinggi sehingga membentuk sebuah terowongan di atas sungai. Pada tahun 1990, dua orang turis dari Prancis dan Swiss yang mengunjungi Cukang Taneuh sangat terpesona dengan keindahan alamnya. Mereka kemudian menyebut tempat itu sebagai Green Canyon. Kemudian pada tahun 1993, seorang warga Prancis mempopulerkan nama itu hingga saat ini.
Boleh dibilang bahwa nama Green Canyon merupakan plesetan dari Grand Canyon. Hal itu hanya untuk menggambarkan bahwa kedua tempat tersebut memiliki kesamaan kontur alamnya. Pembedanya adalah, jika pemandangan alam Grand Canyon di Amerika didominasi oleh warna coklat dan merah, Green Canyon di Jawa Barat didominasi oleh warna hijau. Hingga saat ini masih ada papan nama bertuliskan Cukang Taneuh di dekat pintu gerbang obyek wisata ini. Namun, kebanyakan orang lebih sering menyebutnya dengan nama Green Canyon.
Bagi Anda yang ingin mencari sensasi wisata yang berbeda, mengunjungi Green Canyon merupakan satu pilihan yang cukup menarik. Anda akan disuguhi dengan perpaduan lukisan alam yang begitu unik dan menantang untuk dijelajahi. Mulai dari menyusuri Sungai Cijulang yang diapit oleh tebing-tebing tinggi, menembus gua yang penuh dengan stalagtit dan stalakmit, berenang, bahkan Anda juga bisa melakukan aktivitas menyelam di sungai dan panjat tebing.
Pemandangan yang menyejukkan mata akan menyambut ketika Anda menapakkan kaki di Dermaga Ciseureuh. Sesaat setelah melakukan pengarungan, mata Anda akan dimanjakan dengan warna hijau pepohonan dan hijau tosca aliran sungai. Di sisi aliran Sungai Cijulang, terdapat tebing dan bukit yang ditumbuhi rimbunnya pepohonan serta bebatuan. Suara angin yang meniup pepohonan dan sesekali suara kicauan burung seolah melengkapi perjalanan Anda. Jika beruntung, Anda dapat melihat biawak karena Sungai Cijulang merupakan habitat hewan reptil yang mirip komodo tersebut. Hewan-hewan lain seperti ular kadut dan monyet pun sering terlihat di tempat ini. Selain itu, pengarungan sungai dengan menggunakan ketinting (kapal kecil) tidak akan pernah bisa Anda lupakan.
Setelah 20 menit perjalanan, Anda akan disuguhi pemandangan sepasang bukit yang kokoh. Lebar sungai akan semakin menyempit dan ketinting akan kian melambat. Anda pun akan tiba di mulut Gua Green Canyon dengan stalaktit dan stalagmitnya yang unik. Aliran air di dalam gua ini cukup deras, berbeda dengan aliran air pada saat memulai pengarungan. Sampai di sini, ketinting sudah tidak bisa mengantarkan Anda. Namun, ada dua pilihan yang bisa Anda lakukan, yaitu memasuki gua dengan berjalan kaki atau melakukan perjalanan pulang kembali ke dermaga.
Jika Anda memutuskan untuk turun dari ketinting dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, maka petualangan yang sebenarnya baru saja dimulai. Setelah menapakkan kaki di atas bebatuan, pemandangan yang indah telah menanti Anda. Stalagmit dan stalaktit yang menghias dinding gua seakan berbaris untuk mengucapkan selamat datang atas kehadiran Anda.
Tidak hanya cukup sampai di situ, jika Anda ingin menyaksikan pemandangan yang lebih mengagumkan lagi, Anda bisa berenang sekitar 10 meter ke dalam gua dengan menggunakan pelampung. Di sana Anda akan menemukan pemandangan yang menakjubkan. Gemericik air yang tiada henti menyerupai hujan deras membasahi dinding tebing dan bebatuan. Tempat tersebut disebut sebagai daerah Hujan Abadi, dikarenakan volume air yang tidak pernah surut walau di musim kemarau sekalipun. Selain pemandangan indah di atas permukaan air, Green Canyon akan menjadi surga tersendiri bagi Anda yang suka menyelam. Tinggal membawa beberapa alat selam, pemandangan menakjubkan cekungan-cekungan di dalam air siap untuk ditelusuri dan dinikmati, lengkap dengan berbagai jenis ikan yang berenang ke sana ke mari di dasar lubuk. Bagi yang suka melakukan aktivitas yang menantang, Anda dapat meloncat dari sebuah batu besar dengan ketinggian 5 meter ke dasar lubuk yang dalam.
Selain kaya dengan pesonanya, Green Canyon juga memuat sejumlah mitos. Menurut cerita yang beredar di masyarakat lokal, barangsiapa yang membasuh wajah menggunakan percikan air yang menetes di dalam gua akan awet muda, mudah dapat jodoh, serta dilancarkan rejekinya. Oleh karena itu, banyak wisatawan yang mandi di bawah percikan Air Terjun Palatar yang ada di mulut gua. Tak jarang mereka juga meminum percikan air tersebut. Selain itu, ada juga pantangan tidak boleh dilakukan, yakni mengucapkan kata-kata yang tidak sopan dan juga kata “buaya”.
Setelah puas berenang, menyelam, dan menikmati pesona Green Canyon, Anda dapat kembali ke mulut gua untuk menemui pemilik ketinting sewaan yang menunggu Anda untuk pulang ke dermaga. Untuk berwisata ke Grand Canyon, sebaiknya Anda berkunjung pada musim kemarau atau bulan Mei hingga September. Saat musim kemarau, air Sungai Cijulang berwarna hijau tosca dan debit air sangat cocok untuk melakukan pengarungan. Sedangkan pada musim hujan, air sungai akan berwarna cokelat dan kemungkinan sungai akan pasang serta berarus deras sehingga dikhawatirkan akan membahayakan keselamatan.
Secara administratif, obyek wisata Green Canyon terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Green Canyon hanya berjarak sekitar 31 km dari Pantai Pangandaran atau sekitar 45 menit perjalanan. Sedangkan dari ibukota Kabupaten Ciamis berjarak 130 km, dan 393 km dari Jakarta atau kurang lebih 7–8 jam perjalanan darat. Setelah sampai di Dermaga Ciseureuh, Anda harus melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Cijulang menggunkan kapal kecil atau ketinting. Jarak dermaga dengan lokasi Green Canyon sekitar 3 km dan biasa ditempuh dalam waktu 30–40 menit pulang pergi.

II.  WISATA SEJARAH

1. Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid tertua di Cirebon yang dibangun sekitar tahun 1480 M. Pembangunan masjid ini semasa dengan Wali Songo menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama masjid ini diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta” yang berarti dibangun, dan “rasa” yang berarti digunakan. Selain dikenal dengan nama Masjid Agung Sang Cipta Rasa, masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Agung Kasepuhan dan Masjid Agung Cirebon.
Konon, pembangunan masjid ini melibatkan sekitar 500 orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak, dan Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya, Sunan Gunung Djati menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu, Sunan Gunung Djati juga memboyong Raden Sepat, arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak-Majapahit, untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid tersebut.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa terdiri dari dua ruangan, yaitu beranda dan ruangan utama. Untuk menuju ruangan utama, terdapat sembilan pintu, yang melambangkan Wali Songo.
Masyarakat Cirebon tempo dulu terdiri dari berbagai etnik. Hal ini dapat dilihat pada arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang memadukan gaya Demak, Majapahit, dan Cirebon.
Kekhasan masjid ini terletak pada atapnya yang tidak memiliki memolo berupa kubah, sebagaimana yang lazim ditemui pada atap masjid-masjid di Pulau Jawa. Konon, dahulunya masjid ini punya kubah. Namun, saat azan pitu (tujuh) shalat Subuh digelar untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, kubahnya tersebut pindah ke Masjid Agung Banten yang sampai sekarang masih memiliki dua kubah. Karena cerita tersebut, sampai sekarang setiap shalat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa digelar azan pitu. Yakni, azan yang dilakukan secara bersamaan oleh tujuh orang muazin berseragam serba putih. Pada bagian mihrab masjid, pengunjung dapat melihat ukiran berbentuk bunga teratai yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Selain itu, di bagian mihrab juga terdapat tiga buah ubin bertanda khusus yang melambangkan tiga ajaran pokok agama, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Konon, ubin tersebut dipasang oleh Sunan Gunung Djati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga pada awal berdirinya masjid.
Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapat sumur zam-zam atau banyu cis Sang Cipta Rasa yang ramai dikunjungi orang, terutama pada bulan Ramadhan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.
Masjid Sang Cipta Rasa terletak di Jalan Keraton Kasepuhan No. 43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Tepatnya, berada di sebelah barat alun-alun Keraton Kasepuhan. Dari Jakarta menuju Cirebon, pengunjung dapat menggunakan bus, travel, atau kereta api. Transportasi serupa juga dapat digunakan pengunjung yang datang dari Bandung menuju Cirebon. Sesampainya di Cirebon, pengunjung dapat naik angkutan kota atau ojek menuju lokasi masjid.

2. Keraton Kasepuhan
Pangeran Sri Mangana Cakrabuana, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran Bogor, tercatat sebagai pendiri Keraton Pakungwati sekitar tahun 1480 M. Kedudukannya sebagai putra mahkota dan tumenggung di Cirebon tak membuatnya ragu untuk memisahkan diri dari Kerajaan Padjajaran. Keputusan tersebut diambil agar beliau lebih leluasa mengembangkan agama Islam dan sekaligus terbebas dari pengaruh agama Hindu, agama resmi Kerajaan Padjajaran.
Nama Pakungwati diambil dari nama Ratu Ayu Pakungwati, puteri Pangeran Cakrabuana sendiri. Kelak, Ratu Ayu Pakungwati menikah dengan Syarif Hidayatullah, atau yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Djati. Setelah Pangeran Cakrabuana mangkat, Sunan Gunung Djati naik tahta pada tahun 1483 M. Selain sebagai seorang pemimpin yang disegani, Sunan Gunung Djati juga dikenal sebagai seorang ulama terkemuka di Cirebon.
Pada tahun 1568 M Sunan Gunung Djati wafat. Kemudian, posisinya digantikan oleh cucunya, Pangeran Emas yang bergelar Panembahan Ratu. Pada masa Pangeran Emas inilah dibangun keraton baru di sebelah barat Dalem Agung yang diberi nama Keraton Pakungwati. Sejak tahun 1697 M, Keraton Pakungwati lebih dikenal dengan nama Keraton Kasepuhan dan sultannya bergelar Sultan Sepuh. Pada tahun 1988, untuk menjaga dan melindungi keaslian keraton, terutama koleksi benda-benda kuno peninggalan Kesultanan Cirebon, dua ruangan yang berada di bagian depan Keraton Kasepuhan dijadikan museum yang dapat dikunjungi oleh masyarakat luas. Mengunjungi Keraton Kasepuhan seakan-akan mengunjungi Kota Cirebon tempo dulu. Keberadaan Keraton Kasepuhan juga kian mengukuhkan bahwa di kota Cirebon pernah terjadi akulturasi. Akulturasi yang terjadi tidak saja antara kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Sunda, tapi juga dengan berbagai kebudayaan di dunia, seperti Cina, India, Arab, dan Eropa. Hal inilah yang membentuk identitas dan tipikal masyarakat Cirebon dewasa ini, yang bukan Jawa dan bukan Sunda.
Kesan tersebut sudah terasa sedari awal memasuki lokasi keraton. Keberadaan dua patung macan putih di gerbangnya, selain melambangkan bahwa Kesultanan Cirebon merupakan penerus Kerajaan Padjajaran, juga memperlihatkan pengaruh agama Hindu sebagai agama resmi Kerajaan Padjajaran. Gerbangnya yang menyerupai pura di Bali, ukiran daun pintu gapuranya yang bergaya Eropa, pagar Siti Hingilnya dari keramik Cina, dan tembok yang mengelilingi keraton terbuat dari bata merah khas arsitektur Jawa, merupakan bukti lain terjadinya akulturasi.
Nuansa akulturasi kian kentara ketika memasuki ruang depannya yang berfungsi sebagai museum. Selain berisi berbagai pernak-pernik khas kerajaan Jawa pada umumnya, seperti kereta kencana singa barong, dua tandu kuno, dan berbagai jenis senjata pusaka berusia ratusan tahun, di museum ini pengunjung juga dapat melihat berbagai koleksi cinderamata berupa perhiasan dan senjata dari luar negeri, seperti senapan Mesir, meriam Mongol, dan zirah Portugis. Singgasana raja yang terbuat dari kayu sederhana dengan latar sembilan warna bendera yang melambangkan Wali Songo. Hal ini membuktikan bahwa Kesultanan Cirebon juga terpengaruh oleh budaya Jawa dan agama Islam.
Selain itu, di halaman belakang pengunjung dapat melihat taman istana dan beberapa sumur dari mata air yang dianggap keramat dan membawa berkah. Kawasan ini ramai dikunjungi peziarah pada upacara panjang jimat yang digelar pihak keraton setiap tahun untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Keraton Kasepuhan terletak di Jalan Keraton Kasepuhan No. 43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Dari Jakarta menuju Cirebon, pengunjung dapat menggunakan bus, travel, atau kereta api. Transportasi serupa juga dapat digunakan pengunjung yang datang dari Bandung. Sesampainya di Cirebon, pengunjung dapat naik angkutan kota atau ojek menuju lokasi keraton. Pengunjung dipungut biaya, selain itu apabila wisatawan memanfaatkan jasa pemandu, diharapkan memberikan uang seiklasnya.

3. Museum Konferensi Asia Afrika
Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M. merupakan orang yang pertama kali melontarkan gagasan untuk mendirikan Museum Konferensi Asia Afrika. Beliau terilhami oleh keinginan para pemimpin bangsa untuk mengabadikan Konferensi Asia Afrika. Gagasan tersebut baru terlaksana pada masa Joop Ave menjadi Direktur Jendral Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri dan Ketua Harian Konferensi Asia Afrika ke-25. Pembangunan museum ini terlaksana berkat kerjasama Departemen Luar Negeri, Departemen Penerangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Universitas Padjajaran Bandung. Museum Konferensi Asia Afrika diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 April 1980 bertepatan dengan puncak acara Konferensi Asia Afrika yang ke-25.
Pendirian museum ini bertujuan untuk mengumpulkan, memelihara, mengolah, dan menyajikan peninggalan-peninggalan dan informasi-informasi yang berkaitan dengan latar belakang peristiwa Konferensi Asia Afrika. Selain itu, pendirian museum bertujuan untuk mendokumentasikan perkembangan kawasan Asia Afrika dari waktu ke waktu, serta memotret aspek sosial, budaya, ekonomi, peran dan percaturan politik Indonesia khususnya dan kawasan Asia Afrika umumnya dalam kancah internasional.
Lebih jauh, pendirian museum ini sangat strategis bagi bangsa Indonesia sendiri dalam rangka untuk menunjang usaha-usaha pengembangan kebudayaan nasional, pendidikan bagi generasi muda, dan peningkatan aset kepariwisataan.
Pengunjung tak hanya disuguhi dengan benda-benda, koleksi foto-foto dan arsip-arsip, karena museum ini telah dikembangkan sebagai pusat studi, edukasi, informasi, dan rekreasi. Museum ini ditunjang dengan ruang pameran modern yang memamerkan sejumlah benda dan foto peninggalan Konferensi Asia Afrika Pertama pada tahun 1955 dan Peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-25 pada tahun 1980.
Di museum ini terdapat ruang audio visual yang dapat digunakan pengunjung untuk menonton film dokumenter tentang Konferensi Asia Afrika dan negara-negara berkembang lainnya. Di museum ini juga terdapat ruang diorama yang menceritakan bagaimana Presiden Soekarno berorasi saat Konferensi Asia Afrika Pertama digelar pada tahun 1955.
Selain itu, di museum ini tersedia layanan perpustakaan koleksi buku-buku, dokumen-dokumen, arsip-arsip, majalah, surat kabar, dan brosur mengenai Konferensi Asia Afrika tahun 1955, konferensi-konferensi lanjutannya, negara-negara Asia Afrika, dan negara-negara berkembang lainnya.
Museum Konferensi Asia Afrika terletak di Jalan Asia Afrika No. 65, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Museum Konferensi Asia Afrika berada di jantung kota, dekat dengan alun-alun, dan dilalui trayek angkutan kota, sehingga dapat diakses dengan mudah dari berbagai penjuru Kota Bandung.

4. Candi Cangkuang
Cangkuang adalah nama sejenis pohon pandan (Pandanus furcatus) yang digunakan masyarakat sebagai bahan untuk membuat tudung, tikar, dan pembukus gula aren. Seiring dengan perputaran waktu, nama cangkuang diabadikan sebagai nama sebuah desa dan sekaligus nama sebuah danau/situ, yaitu Desa Cangkuang dan Situ Cangkuang. Kemudian, sebuah candi yang terdapat di kawasan tersebut juga diberi nama Candi Cangkuang.
Candi Cangkuang ditemukan oleh Prof. Harsoyo dan Drs. Uka Tjandrasasmita, Tim Peneliti Sejarah Leles, pada tanggal 19 Desember 1966. Penelitian ini disponsori oleh Bapak Idji Hatadji, Direktur CV. Haruman. Candi ini ditemukan berkat laporan ilmuan Belanda bernama Vordeman dalam Notulen Bataviaasch Genootschap terbitan tahun 1893, yang menyebutkan adanya sebuah makam kuno dan sisa-sisa arca Dewa Siwa di daerah Leles.
Pada penelitian berikutnya, di kawasan tersebut juga ditemukan peninggalan-peninggalan zaman prasejarah, seperti alat-alat dari batu oksidan (batu kendan), pecahan-pecahan tembikar dari zaman Neolitikum, dan batu-batu besar peninggalan kebudayaan zaman Megalitikum.
Dilihat dari bentuk bangunannya, para ahli purbakala berpendapat bahwa Candi Cangkuang berdiri sejak abad ke-8. Namun, jika dilihat dari kesederhanaan hiasan, teknik pembuatan, dan laporan tambo Cina, tidak mustahil bangunan Candi Cangkuang sudah ada sejak abad ke-7, bersamaan dengan pembangunan candi-candi lainnya di Pulau Jawa.
Mengunjungi Candi Cangkuang bak pepatah “sekali mendayung perahu dua tiga pulau terlampaui”. Pasalnya, sebelum sampai di lokasi candi tersebut, pengunjung akan melewati Kampung Pulo yang memiliki tradisi unik dan bangunan yang masih terjaga keasliannya. Dari atas getek (rakit yang terbuat dari bambu), pengunjung dapat melihat panorama alam Situ Cangkuang nan rancak.
Sesampainya di Pulau Panjang, lokasi beradanya candi, pengunjung akan terkesan dengan hawanya yang sejuk dan pemandangan yang alami karena di kawasan ini terdapat sebuah taman dan pepohonan teurep, beringin, dan randu yang berdaun rimbun. Gunung Haruman, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur yang menjulang tinggi, serta Situ Cangkuang yang berair tenang, membuat pemandangan di kawasan wisata cagar budaya kian eksotik dan eksklusif.
Di kawasan ini, terdapat sebuah museum kecil yang dibuka untuk umum. Di museum ini, terdapat koleksi barang-barang antik dan dua belas kitab kuno. Selain itu, terdapat juga dokumen-dokumen yang menceritakan tentang seluk-beluk candi, mulai dari proses penemuannya sampai proses pemugarannya.
Sekitar satu meter di sisi selatan candi, terdapat makam Embah Dalem Arif Muhammad. Konon, Embah Arif dan rombongannya merupakan utusan Kerajaan Mataram untuk memerangi VOC di Batavia (sekarang Jakarta). Karena kalah, mereka memutuskan tidak kembali lagi ke Mataram dan menetap di daerah Cangkuang yang masyarakatnya waktu itu telah memeluk agama Hindu.
Melihat potensi candi dan sekitarnya yang demikian, kawasan ini juga cocok dijadikan sebagai tempat wisata budaya dan wisata alam.
Candi Cangkuang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Lokasi Candi Cangkuang berjarak sekitar 46 kilometer dari Bandung dan 20 kilometer dari pusat Kota Garut. Pengunjung yang menggunakan angkutan umum dapat naik bus sampai Garut. Dari Garut, perjalanannya dilanjutkan dengan naik angkutan kota sampai ke Leles. Dari pinggir Jalan Raya Leles, lokasi candi berjarak sekitar 3 kilometer. Dari sini, pengunjung dapat naik andong, ojek, atau berjalan kaki sekitar 35 menit. Setelah melewati Kampung Pulo, pengunjung akan menyeberangi Situ Cangkuang dengan getek menuju lokasi candi.

5. Makam Sunan Gunung Jati
Kota Cirebon merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang cukup terkenal berkat adanya makam Syarif Hidayatullah, seorang mubaligh, pemimpin spiritual, dan sufi yang juga dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati. Peristirahatan terakhir Sunan Gunung Jati dan keluarganya ini disebut dengan nama Wukir Sapta Rengga. Makam ini terdiri dari sembilan tingkat, dan pada tingkat kesembilan inilah Sunan Gunung Jati dimakamkan. Sedangkan tingkat kedelapan ke bawah adalah makam keluarga dan para keturunannya, baik keturunan yang dari Kraton Kanoman maupun keturunan dari Kraton Kasepuhan.
Di makam ini terdapat pasir malela yang berasal dari Mekkah yang dibawa langsung oleh Pangeran Cakrabuana, putera Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjadjaran. Karena proses pengambilan pasir dari Mekkah itu membutuhkan perjuangan yang cukup berat, maka pengunjung dan juru kunci yang akan keluar dari kompleks makam ini harus membersihkan kakinya terlebih dahulu, agar pasir tidak terbawa keluar kompleks walau hanya sedikit. Larangan tersebut merupakan instruksi langsung dari Pangeran Cakrabuana sendiri.
Makam yang menempati lahan seluas 4 hektar ini merupakan obyek wisata ziarah yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan/peziarah baik dari Cirebon maupun kota-kota sekitarnya. Kedatangan para peziarah itu biasanya berlangsung pada waktu-waktu tertentu seperti Jumat Kliwon, peringatan maulud Nabi Muhammad SAW, ritual Grebeg Syawal, ritual Grebeg Rayagung, dan ritual pencucian jimat. Bangunan makam Sunan Gunung Jati memiliki gaya arsitektur yang unik, yaitu kombinasi gaya arsitektur Jawa, Arab, dan Cina. Arsitektur Jawa terdapat pada atap bangunan yang berbentuk limasan. Arsitektur Cina tampak pada desain interior dinding makam yang penuh dengan hiasan keramik dan porselin. Selain menempel pada dinding makam, benda-benda antik tersebut juga terpajang di sepanjang jalan makam. Semua benda itu sudah berusia ratusan tahun, namun kondisinya masih terawat. Benda-benda tersebut dibawa oleh istri Sunan Gunung Jati, Nyi Mas Ratu Rara Sumandeng dari Cina sekitar abad ke-13 M. Sedangkan arsitektur Timur Tengah terletak pada hiasan kaligrafi yang terukir indah pada dinding dan bangunan makam itu.
Keunikan lainnya tampak pada adanya sembilan pintu makam yang tersusun bertingkat. Masing-masing pintu tersebut mempunyai nama yang berbeda-beda, secara berurutan dapat disebut sebagai berikut: pintu gapura, pintu krapyak, pintu pasujudan, pintu ratnakomala, pintu jinem, pintu rararoga, pintu kaca, pintu bacem, dan pintu kesembilan bernama pintu teratai. Semua pengunjung hanya boleh memasuki sampai pintu ke lima saja. Sebab pintu ke enam sampai ke sembilan hanya diperuntukkan bagi keturunan Sunan Gunung Jati sendiri.
Kompleks makam ini juga dilengkapi dengan dua buah ruangan yang disebut dengan Balaimangu Majapahit dan Balaimangu Padjadjaran. Balaimangu Majapahit merupakan bangunan yang dibuat oleh Kerajaan Majapahit untuk dihadiahkan kepada Sunan Gunung Jati sewaktu ia menikah dengan Nyi Mas Tepasari, putri dari salah seorang pembesar Majapahit yang bernama Ki Ageng Tepasan. Sedangkan Balaimangu Padjadjaran merupakan bangunan yang dibuat oleh Prabu Siliwangi untuk dihadiahkan kepada Syarif Hidayatullah sewaktu ia dinobatkan sebagai Sultan Kesultanan Pakungwati (kesultanan yang merupakan cikal bakal berdirinya Kesultanan Cirebon).
Selain terkenal dengan arsitektur bangunannya yang unik, obyek wisata ziarah makam Sunan Gunung Jati ini juga terkenal dengan berbagai macam ritualnya, yaitu ritual Grebeg Syawal, Grebeg Rayagung, dan pencucian jimat. Grebeg Syawal ialah tradisi tahunan yang diselenggarakan setiap hari ke 7 di bulan Syawal, untuk mengenang dan melestarikan tradisi Sultan Cirebon dan keluarganya yang berkunjung ke makam Sunan Gunung Jati setiap bulan itu. Sedangkan Grebeg Rayagung ialah kunjungan masyakat setempat ke makam yang diadakan setiap hari raya Iduladha. Selain itu, terdapat juga ritual tahunan pada hari ke-20 di bulan Ramadhan, tradisi itu disebut “pencucian jimat” dan benda-benda pusaka (gamelan dan seperangkat alat pandai besi) yang merupakan benda peninggalan Sunan Gunung Jati. Tradisi ini dilaksakan setelah shalat shubuh, bertujuan untuk memperingati Nuzulul Qur‘an yang jatuh pada tanggal 17 Ramadhan
Makam Sunan Gunung Jati terletak di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Propinsi Jawa Barat, Indonesia. Makam Sunan Gunung Jati berjarak kurang lebih 6 km ke arah utara dari Kota Cirebon. Untuk menuju lokasi makam ini pengunjung dapat menggunakan kendaran pribadi (mobil) atau naik angkutan umum (bus) dari Terminal Cirebon. Dari terminal ini, pengunjung naik bus jurusan Cirebon—Indramayu dan turun di lokasi. Perjalanan dari Cirebon menuju lokasi makam ini biasanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit.
Memasuki obyek wisata ziarah makam Sunan Gunung Jati ini tidak dipungut biaya. Namun, para pengunjung dapat menyumbang dana seikhlasnya pada kotak sumbangan yang terletak di setiap pintu masuk kompleks makam itu.

6. Museum Perundingan Linggarjati
Sebagian besar masyarakat Indonesia hampir dapat dipastikan mengenal Perjanjian Linggarjati. Setidaknya mengingatnya sebagai salah satu poin yang selalu diajarkan dalam pelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia. Ya, Perjanjian Linggarjati (yang biasa juga dilafalkan “linggajati”) merupakan perjanjian penting antara Pemerintah Indonesia yang baru setahun mengumandangkan kemerdekaannya, dengan Pemerintah Belanda yang ngotot ingin kembali menguasai kawasan Hindia Belanda usai Perang Dunia II. Perjanjian yang dilaksanakan antara 10 hingga 13 November 1946 ini dilakukan di sebuah gedung bekas hotel di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Nah, gedung bekas perjanjian yang berhasil membuahkan pengakuan secara de facto eksistensi Republik Indonesia dengan kekuasaan meliputi Pulau Jawa, Madura, dan Sumatra oleh pemerintah Belanda ini telah difungsikan sebagai museum. Namun sebelum menjadi museum, gedung dengan arsitektur khas kolonial ini mengalami perjalanan sejarah yang cukup panjang, bahkan sempat berada dalam kondisi yang mengenaskan sebelum akhirnya direnovasi untuk dijadikan museum.
Gedung ini pertama kali dibangun oleh Tuan Mergen atau yang dikenal juga dengan sebutan Tuan Tersana sekitar tahun 1921. Tuan Tersana adalah pemilik pabrik gula Tersana Baru di daerah Cirebon. Setelah mengawini seorang janda kembang bernama Jasitem, konon ia kemudian membangun rumah peristirahatan semi permanen di desa Linggarjati untuk istrinya (http://haryodamardono.blogspot.com). Kawasan Linggarjati memang cocok untuk lokasi rumah peristirahatan atau vila, sebab daerah yang berada di ketinggian sekitar 400 meter di atas pemukaan laut (dpl) ini cukup sejuk dengan latar belakang pemandangan Gunung Ciremai yang indah.
Pada tahun 1930, rumah ini dibeli oleh keluarga Belanda bernama Van Ost Dome yang kemudian merombak bangunannya menjadi bangunan permanen. Setelah dibeli Van Ost Dome, pada tahun 1935 rumah persitirahatan ini disewakan kepada Heiker, seorang Belanda yang memfungsikan rumah tersebut sebagai hotel dengan nama Hotel Rustoord. Usaha perhotelan ini cukup berkembang sampai kedatangan balatentara Jepang sekitar tahun 1942. Pada zaman pendudukan Jepang, Hotel Rustoord berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan. Namun kekuasaan Jepang tidak berlangsung lama, karena mereka kalah pada Perang Dunia II dan harus berkemas kembali ke negaranya. Oleh sebab itu, sejak 1945 Hotel Hokay Ryokan kemudian “dinasionalisasi” menjadi Hotel Merdeka. Ciri khas bangunan hotel ini masih nampak hingga saat ini, misalnya pembagian ruangan, kamar, serta ruang pertemuan yang masih mirip hotel jaman dulu (http://www.museum-indonesia.net).
Usai Perang Dunia II, Belanda membonceng Sekutu untuk kembali menguasai kawasan Hindia Belanda. Namun, pihak Sekutu yang dipimpin Inggris mencoba menengahi ketegangan antara Belanda dan Indonesia dengan memfasilitasi berbagai perundingan, salah satunya Perundingan Linggarjati. Lantas siapa yang memilih bangunan ini sebagai tempat perundingan antara Indonesia dan Belanda pada 1946? Usulan tersebut ternyata dicetuskan oleh Maria Ulfah Santoso, Menteri Sosial pada Kabinet Sjahrir II yang berasal dari Kabupaten Kuningan. Menurut pendapat Maria Ulfah, lokasi gedung tersebut cukup kondusif untuk perundingan, dan cukup dekat jaraknya dengan Jakarta, sehingga memudahkan transportasi presiden dan wakil presiden menuju Kuningan, apabila sewaktu-waktu diperlukan mendadak. Usul Maria Ulfah ini disetujui oleh Sjahrir, Perdana Menteri dan sekaligus ketua delegasi perundingan dari Indonesia (http://www.museumindonesia.com).
Setelah sempat menjadi lokasi perundingan penting, Gedung Perjanjian Linggarjati ini pernah juga difungsikan sebagai markas militer Belanda pada saat terjadi Agresi Militer Belanda II. Salah satu divisi yang pernah menggunakan gedung ini adalah Divisi Zeven December, salah satu divisi yang bertugas di Jawa Barat pada 1946 sampai 1949. Untuk mengenang tempat-tempat yang penuh kenangan sejarah itu, para veteran Divisi Zeven December yang masih hidup pernah mengunjungi Gedung Perjanjian Linggarjati untuk sekedar bernostalgia. Kunjungan ini misalnya terjadi pada awal November 2004, di mana puluhan veteran tentara
Belanda ini bernostalgia dengan ditemani musuh mereka, para veteran tentara Siliwangi (http://swaramuslim.net).
Usai Agresi Militer Belanda, gedung bersejarah ini kemudian difungsikan sebagai gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) Linggarjati, sekitar tahun 1950 hingga 1975. Pada saat difungsikan sebagai sekolah, kondisi gedung makin tidak terawat. Ketika Bung Hatta dan Ibu Sjahrir (istri Sutan Sjahrir) berkunjung untuk melihat kondisinya, gedung ini sudah nampak sangat memprihatinkan, sehingga Bung Hatta menjanjikan renovasi. Namun, renovasi tak kunjung terjadi, hingga akhirnya Gedung Perjanjian Linggarjati diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan museum pada tahun 1976 (http://www.museum-indonesia.net). Selain direnovasi sebagai museum, pemerintah juga menetapkan Gedung Perjanjian Linggarjati sebagai salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi, berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 (http://navigasi.net).
Berjarak puluhan meter dari jalan raya, keberadaan sebuah rumah tua dengan tembok tinggi dan jendela besar-besar sungguh menyolok mata. Rumah ini sangat kontras dengan rumah-rumah model baru di sekitarnya. Gedung Linggarjati memang memberikan kesan kuat sebagai bangunan kuno. Temboknya yang tinggi dan tebal, jendela-jendela yang dibuat besar-besar, lubang-lubang ventilasi yang khas, serta model atap yang khas pula memudahkan kita mengidentifikasinya sebagai bangunan bekas jaman kolonial. Arsitekturnya macam ini merupakan salah satu ciri khas bangunan tropis, di mana bentuk bangunan sengaja dibuat untuk memudahkan sirkulasi udara dan masuknya sinar matahari yang cukup di kala siang.
Gedung Linggarjati berdiri di atas lahan seluas 2,4 hektare. Bangunannya sendiri menempati luas 800 meter persegi, sementara selebihnya digunakan sebagai areal parkir dan taman rumput yang dihiasi bunga-bunga dan pepohonan. Lingkungannya yang sejuk dan tidak terlalu ramai membuat pengunjung merasa betah untuk berlama-lama di tempat ini, untuk sekedar menghirup udara segar atau menikmati suasana lereng pegunungan. Namun, suasana yang nyaman ini hanya “bonus” dari kunjungan Anda ke Linggarjati. Artinya, paket utama kunjungan tentu saja harus diambil, yakni menyaksikan langsung peninggalan Perjanjian Linggarjati. Kunjungan Anda ke kawasan Linggarjati belum benar-benar sempurna jika belum melihat koleksi benda-benda bersejarah yang ada di dalam museum. Interior gedung, perobot, serta benda-benda bersejarah lainnya akan membawa imajinasi kita pada salah satu babak menentukan dalam perjalanan bangsa ini.
Memasuki Gedung Linggarjati, pengunjung akan disambut oleh penjaga museum. Sebelum menikmati seluruh koleksi bersejarah yang ada, Anda harus mengisi buku tamu sebagai tanda bukti kunjungan. Selain itu, disarankan juga untuk memberikan sumbangan sukarela dengan cara memasukkan uang ke dalam kotak sumbangan. Setelah itu, pengunjung bebas melangkah untuk melihat-lihat koleksi yang ada. Seorang pemandu biasanya akan membantu menjelaskan kisah di balik tiap koleksi yang dipajang.
Gedung Linggarjati terdiri dari beberapa ruangan, antara lain ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi, dan ruang belakang (dapur). Tiap ruangan dilengkapi dengan perabot, foto-foto, serta berbagai perlengkapan layaknya rumah peristirahatan. Di ruang tengah, misalnya, dipamerkan berbagai foto yang berkaitan dengan Perjanjian Linggarjati serta gambar perkembangan kondisi gedung dari masa ke masa yang sempat diabadikan dengan kamera. Di tempat ini juga masih bisa disaksikan lemari setinggi pinggang serta sebuah piano kuno yang kemungkinan peninggalan pemilik terdahulu ketika bangunan ini
difungsikan sebagai hotel. Di samping itu, di ruangan tengah ini juga ditampilkan semacam diorama yang menggambarkan proses perundingan, lengkap dengan meja-kursi dan patung para delegasi perundingan.
Ruang tengah memang merupakan tempat dilangsungkannya Perundingan Linggarjati. Di tempat inilah delegasi dari Indonesia yang terdiri dari Sutan Sjahrir, Mr. Soesanto Tirtoprodjo, Dr. A. K. Gani, Mr. Muhammad Roem, serta delegasi dari Belanda yang terdiri dari Prof. Ir. Schermerhorn, Mr. Van Poll, Dr. F. DeBoer, serta Dr. Van Mook berunding untuk menyelesaikan sengketa antara negara yang baru merdeka dengan bekas penjajahnya. Selain para perunding, ada juga para notulen, yang terdiri dari Dr. J. Leimena, Dr. Soedarsono, Mr. Amir Sjarifuddin, Mr. Ali Budiardjo, serta seorang penengah utusan Inggris bernama Lord Killearn. Diorama ini dibuat oleh Dinas Pariwisata Jawa Barat sekitar tahun 1986 (http://haryodamardono.blogspot.com).
Wisatawan dapat pula melihat papan berukuran cukup besar yang berisi pasal-pasal hasil kesepakatan Perundingan Linggarjati. Tiga pasal utama hasil perundingan tersebut adalah: [1] Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura; [2] Republik Indonesia dan Belanda akan bekerjasama dalam membentuk negara Indonesia Serikat, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia; [3] Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya (http://teamtouring.web.id). Hasil kesepakatan penting ini rupanya ditolak oleh kalangan oposisi di Indonesia dan kalangan parlemen di Belanda, sehingga berbagai butir perjanjian terkesan mengambang begitu saja. Hasil perjanjian dianggap terlalu jauh menukik pada kebijakan dua negara. Akibatnya, berbagai partai oposisi menarik dukungannya terhadap Sjahrir, sehingga berujung pengunduran diri Sjahrir sebagai perdana menteri pada 27 Juni 1947 (http://heyderaffan.multiply.com).
Puas menikmati diorama yang menyajikan salah satu momen bersejarah ini, kita bisa melihat ruang-ruang kamar yang pernah digunakan oleh para delegasi untuk beristirahat. Di atas daun pintu ditempel papan nama delegasi yang beristirahat di kamar tersebut. Memasuki kamar-kamar ini, kita masih bisa menyaksikan kondisinya yang terkesan kuno, misalnya bentuk jendela, dipan, serta bantal guling besar-besar dengan sarung berwarna putih. Ruangan lainnya adalah dapur yang berisi lemari kuno dengan peralatan makan dan minum yang dahulu digunakan dalam Perundingan Linggarjati. Koleksi perabotan ini umumnya dikembalikan oleh warga sekitar yang pernah merawatnya karena Gedung Linggarjati sempat tak terawat.
Usai menyaksikan berbagai benda bersejarah, wisatawan dapat beristirahat sambil duduk-duduk di teras beton di halaman gedung. Di tempat yang cukup luas ini wisatawan dapat menghilangkan penat sekaligus menikmati pemandangan lembah dan jalan raya yang berada tak jauh dari tempat tersebut. Kunjungan ke Museum Linggarjati juga dapat dilengkapi dengan menikmati obyek wisata lainnya, yakni sebuah fasilitas pariwisata pendukung, berupa taman asri yang dilengkapi berbagai fasilitas dan permainan, seperti kolam renang, danau buatan, serta sarana perahu karet untuk menyeberangi danau.
Museum Perundingan Linggarjati terletak di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Meskipun merupakan jalur yang terbilang sepi, jalan menuju Linggarjati telah diaspal dengan baik, sehingga memudahkan Anda yang ingin mengunjungi tempat ini. Dari Kota Cirebon, Linggarjati berjarak sekitar 30 kilometer, sedangkan dari Kota Kuningan sekitar 17 kilometer.
Dari Jakarta, apabila Anda menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan dapat dilakukan menempuh jalur tol Jakarta-Cirebon, kemudian berbelok arah ke selatan keluar di gerbang tol Ciperna pada ruas tol Palimanan-Kanci (tol Cirebon). Dari sini, Anda menuju Kota Kuningan dengan perjalanan sekitar 20 menit. Dari Kuningan lanjutkan perjalanan menuju Desa Linggarjati. Jika Anda menggunakan angkutan umum, ada ratusan bus umum yang melayani trayek Jakarta-Kuningan setia harinya. Dari kota ini, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum menuju museum. Museum Perjanjian Linggarjati buka setiap hari Senin - Jumat pukul 07.00 - 15.00 WIB, dan Sabtu - Minggu pukul 08.00 - 17.00 WIB.

7.  Museum Pos Indonesia
Pernah dengar tentang Gedung Sate di Bandung? Ya, sebagian besar masyarakat Indonesia pasti mengenal bangunan unik dengan atap mirip tusuk sate yang merupakan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat tersebut. Tetapi, apakah Anda tahu bahwa di sayap timur Gedung Sate berdiri sebuah museum tentang pos yang dibangun tahun 1931? Mungkin tak banyak di antara kita yang tahu, bahwa selain keunikan Gedung Sate yang sudah terkenal itu, terdapat obyek wisata sejarah yang tak kalah menariknya untuk kita kunjungi, yakni Museum Pos Indonesia. Museum Pos Indonesia dapat dikatakan merekam perjalanan sejarah layanan pos di Indonesia sejak jaman kolonial hingga Indonesia merdeka. Gedung yang digunakan sebagai museum tersebut dibangun sekitar tahun 1920 oleh arsitek J. Berger dan Leutdsgebouwdienst, dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissans. Sejak 1933, gedung seluas 706 meter persegi ini kemudian difungsikan sebagai museum, dengan nama Museum Pos Telegrap dan Telepon (seringkali disingkat Museum PTT) (http://www.egamesbox.com).
Meletusnya Perang Dunia II dan masa Pendudukan Jepang pada tahun 1941 menyebabkan museum dengan koleksi berbagai benda-benda pos dari seluruh dunia ini tidak terurus. Bahkan sejak masa revolusi kemerdekaan hingga awal akhir 1979 Museum PTT makin tak terperhatikan. Baru pada awal 1980, Perum Pos dan Giro membentuk sebuah panitia untuk merevitalisasi museum agar berfungsi kembali sebagai sarana untuk memamerkan koleksi benda-benda pos dan telekomunikasi. Ikhtiar ini membuahkan hasil dengan diresmikannya museum tersebut pada Hari Bhakti Postel ke-38, yakni tanggal 27 September 1983 oleh Achmad Tahir, Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi ketika itu. Museum ini diberi nama Museum Pos dan Giro, mengikuti nama perusahaan milik pemerintah yang membawahi museum tersebut (http://www.museum-indonesia.net).
Perubahan nama kembali terjadi di tahun 1995, ketika nama Perum Pos dan Giro berubah menjadi PT Pos Indonesia (Persero). Nama Museum Pos dan Giro menyesuaikan dengan nama baru perusahaan, menjadi Museum Pos Indonesia. Peran dan fungsi museum ini juga makin berkembang. Tak hanya menjadi tempat memamerkan koleksi, museum ini juga menjadi sarana penelitian, pendidikan, dokumentasi, layanan informasi, serta sebagai obyek wisata khusus (http://cptshtia.blogspot.com).
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang makin memudahkan pengiriman pesan, baik melalui jaringan internet maupun telepon seluler, membuat layanan pos makin kurang diminati. Surat menyurat maupun pengiriman kartu pos kini seolah telah ketinggalan jaman. Oleh sebab itu, keberadaan Museum Pos Indonesia makin penting untuk memperlihatkan perkembangan teknologi pengiriman pesan dan barang dari jaman awal perusahaan pos pada tahun 1930-an hingga layanan terkini. Koleksi yang dipamerkan tak hanya sebatas perangko maupun kartu pos, melainkan juga diperluas dengan memerkan berbagai peralatan pos, buku-buku, serta visualisasi dan diorama kegiatan pengeposan. Dengan perluasan benda dan koleksi museum, menjadikan museum ini sebagai museum pos yang cukup lengkap menceritakan sejarah perusahaan pos di Indonesia.
Museum Pos Indonesia sangat cocok bagi Anda para pegila filateli, sebab museum ini memiliki sekitar 50 ribu lembar perangko dari sekitar 178 negara di dunia. Koleksi yang begitu kaya tersebut dikumpulkan sejak museum ini didirikan, yakni 1933 hingga sekarang. Selain dapat menikmati koleksi berbagai perangko, pengunjung juga dapat melihat benda-benda pos lainnya yang sarat akan nilai sejarah.
Di lantai pertama misalnya, wisatawan akan langsung disambut oleh pameran berbagai perlengkapan karyawan sejak jaman kolonial hingga sekarang. Di ruang pameran ini Anda dapat membandingkan perkembangan pakaian dinas karyawan pos, juga peralatan-peralatan pos yang sudah terlihat sangat kuno. Salah satu yang menyolok mata adalah patung tokoh pos Indonesia, yaitu Mas Soeharto. Mas Soeharto merupakan tokoh pos yang hilang karena diculik oleh Belanda. Patung tersebut menjadi salah satu upaya menghargai tokoh pos yang banyak berjasa pada perkembangan layanan pos di Indonesia ini.
Masih di lantai pertama, wisatawan juga diperlihatkan berbagai alat seperti timbangan surat, timbangan paket, kantong pos, stempel pos, kendaraan pengantar surat, serta peralatan-perlatan pos tempo dulu lainnya. Ada juga semacam replika yang menggambarkan para pegawai pos yang sedang bekerja. Penggambaran melalui replika ini sangat membantu untuk mengetahui seperti apa proses layanan pos pada jaman dahulu hingga sekarang. Sementara di sudut-sudut ruangan ditampilkan pula gambar-gambar proses pembuatan prangko, pencetakannya, hingga siap digunakan oleh konsumen.
Selain lantai pertama, ruang pamer lainnya adalah di lantai bawah tanah (basement). Di tempat inilah para pelancong dapat menyaksikan berbagai koleksi perangko dari berbagai negara. Perangko-perangko ini ditempatkan di dalam lemari-lemari dari kaca yang disebut vitrin. Susunan lemari ini berderet dari koleksi terkuno hingga koleksi terkini, dengan kategori perangko yang mengacu pada negara asal perangko tersebut diproduksi. Dari sekitar 50 ribu koleksi perangko, beberapa kelompok koleksi sengaja diberi pengaman khusus, seperti palang besi dan dikunci. Hal ini mengingat koleksi-koleksi tersebut terbilang kuno dan langka, sehingga jika dinilai dengan nominal uang, maka nilainya akan sangat mencengangkan. Bisa mencapai miliaran rupiah. Untuk menyaksikannya, wisatawan pun secara khusus harus didampingi petugas
Sebagian besar koleksi perangko istimewa di museum ini memang berasal dari Belanda. Hal ini tidak begitu mengherankan, sebab sedari awal museum ini memang didirikan oleh perusahaan pos milik Belanda. Meski demikian, tidak berarti Museum Pos Indonesia abai untuk memperlihatkan sejarah perangko dunia. Salah satu koleksinya berupa lukisan perangko pertama di dunia yang disebut "The Penny Black". Perangko ini bergambar kepala Ratu Victoria dan diterbitkan pertama kali tahun 1840. Di samping lukisan perangko pertama itu, dipajang pula gambar Sir Rowland, pencipta perangko pertama tersebut yang semula merupakan pekerja di Dinas Perpajakan Inggris. Dalam keterangan yang tertera di museum, kita bisa tahu ternyata pada awalnya biaya pengiriman surat ditanggung oleh si penerima. Namun, sistem ini akhirnya dihentikan dan diganti karena pernah terjadi kasus penerima surat yang menolak membayar biaya pengiriman surat.
Selain sejarah perangko pertama di dunia, ada juga perangko pertama di Indonesia. Bentuknya bukan lukisan, melainkan perangko asli. Perangko yang terbit pada 1 April 1864 ini berwarna merah anggur dengan gambar Raja Willem III. Harganya ketika itu sekitar 10 sen
(http://cptshtia.blogspot.com).
Berbagai peralatan pos pada jaman dulu juga dipamerkan di lantai bawah tanah ini, misalnya berbagai macam bentuk bis surat yang dikumpulkan dari seluruh Nusantara. Kemudian ada juga gerobak besi kuno yang dahulu digunakan untuk mengangkut surat dari kantor pos ke stasiun kereta api. Sementara peralatan yang lebih modern adalah sebuah mesin penjual perangko otomatis. Namun sayang, mesin ini sudah rusak.
Koleksi lainnya yang juga cukup bernilai adalah poset-poster surat emas (golden letter). Poster-poster ini merupakan replika surat-surat kuno yang dibuat pada zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara, seperti Mulawarman, Sriwijaya, Tarumanegara, dan Majapahit. Meskipun disebut surat emas, namun pada kenyataannya gambar poster tersebut tidak lagi menunjukkan kilau emas pada goresan huruf-hurufnya. Hal ini karena usia surat tersebut telah berabad-abad, sehingga ketika dibuat replikanya tidak lagi menunjukkan warna kemilau emas.
Museum Pos Indonesia terletak di sayap timur Gedung Sate, tepatnya di Jalan Cilaki, nomor 73, Bandung, Indonesia. Bangunan museum menyatu dengan Kantor Pusat PT Pos Indonesia. Museum Pos Indonesia terletak di pusat kota Bandung, sehingga memudahkan bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke tempat ini. Wisatawan dapat memulai perjalanan dari Kota Jakarta. Jarak antara Jakarta – Bandung terpaut sekitar 180 kilometer. Dari Jakarta, wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.
Apabila menggunakan kendaraan umum, wisatawan bisa memilih menggunakan jasa kereta api atau menggunakan bus umum. Sesampainya di stasiun kereta api atau di terminal di Kota Bandung, Anda dapat memanfaatkan angkutan kota atau taksi menuju Gedung Sate. Dari Gedung Sate, Anda tinggal melangkahkan kaki menuju sisi timur gedung. Ada papan petunjuk kecil menuju museum ini. Jika bingung, Anda dapat bertanya kepada satpam atau pegawai di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Museum buka setiap hari dari Senin – Minggu pukul 09.00 – 16.00 WIB. Pada hari libur nasional museum ini tutup. Jika wisatawan ingin berkunjung dengan rombongan dalam jumlah besar, sebaiknya memberitahukan terlebih dahulu kepada pengelola museum melalui telepon 022-420195, pesawat 153. Konfirmasi kunjungan ini penting supaya pelayanan pengelola museum tetap maksimal.

III.  Wisata Minat Khusus

1. Observatorium Bosscha
Secara historis, tahun 1920 merupakan tahun istimewa bagi Observatorium Bosscha, karena pada tahun itu mulai bergulir ide untuk mendirikan stasiun pengamatan bintang. Ide tersebut bergulir seiring dengan berdirinya Nederlandch Indische Sterrenkundige Vereeniging (Perhimpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda) yang dipelopori oleh Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah berkebangsaan Belanda yang memiliki perkebunan teh di daerah Malabar, Lembang, Jawa Barat.
Pada tanggal 12 September 1920, perhimpunan tersebut mengadakan rapat perdana di Hotel Homman Bandung. Peserta rapat sepakat untuk mendirikan sebuah observatorium yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu astronomi di Hindia Belanda. Waktu itu, Mr. Bosscha berjanji akan memberikan bantuan berupa teropong bintang modern. Tak lama berselang, Mr. Bosscha bersama sepupunya, Mr. Dr. J. Voute, bertolak ke Askania Werk Jerman untuk memesan Meredian Circle dan Carl Zeiss Double Refractor.
Pada tahun 1922, pembangunan observatorium dimulai. Tanggal 1 Januari 1923 sebagian bangunannnya sudah rampung dan langsung diresmikan oleh Gubernur Jendral Mr. D. Fock. Dalam peresmian ini, Dr. Voute diangkat sebagai direktur pertamanya.
Pada tanggal 10 Januari 1928, teleskop yang dipesan tiba dari Jerman. Tanggal 26 November 1928, beberapa bulan setelah pembangunan instalasi teleskop Zeiss selesai, Mr. Bosscha meninggal dunia. Atas jasa-jasanya, observatorium di Lembang dinamakan Observatorium Bosscha. Saat ini, Observatorium Bosscha dikelola oleh Departemen Astronomi, Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain siang hari, pengunjung dapat mengunjungi Observatorium Bosscha pada malam hari. Di sini terdapat teleskop untuk melihat bintang dan teleskop untuk melihat matahari.
Terhitung sejak tanggal 15 Desember 2007, di Observatorium Bosscha didirikan Museum Astronomi Indonesia (MAI) yang bertempat di Wisma Kerkhoven. Di museum ini, terdapat koleksi foto-foto pembangunan Onservatorium Bosscha, teleskop secretan, micrometre untuk membaca posisi bintang, dan measuring engine untuk membaca posisi benda-benda langit.
Di Observatorium Bosscha juga terdapat ruang perpustakaan yang berkaitan dengan seluk-beluk ilmu astronomi, ruang ceramah umum, kamar ukur, dan bengkel.
Selain itu, pengunjung dapat menikmati paket khusus bernama AstroCamp, dimana peserta tinggal di dekat observatorium untuk mendapatkan pendidikan dan latihan dasar astronomi selama dua hari dua malam. Peserta dapat berdiskusi dan menggunakan teropong bintang untuk melakukan pengamatan dan pemotretan langsung benda-benda langit bersama astronom profesional.
Observatorium Bosscha terletak di Jalan Peneropongan Bintang, Desa Gudang Kahuripan dan Desa Lembang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Berjarak sekitar 15 kilometer ke arah utara dari pusat kota Bandung, dengan jarak tempuh perjalanan sekitar 30 menit menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat .
Dari Bandung, pengunjung dapat naik kendaraan pribadi atau angkutan kota menuju Lembang. Khusus untuk kendaraan pribadi, dapat diparkir dekat lokasi observatorium. Sedangkan kendaraan umum, diparkir di Jalan Raya Lembang, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari lokasi. Dari sini, pengunjung dapat berjalan kaki menuju lokasi, atau menyewa ojek.

2. Kampung Naga
Di tengah derasnya laju budaya global yang menggerus budaya lokal, ternyata masih ada sekelompok masyarakat yang tetap teguh mempertahankan adat istiadat serta tidak terpengaruh dengan hiruk-pikuk laju globalisasi. Kelompok masyarakat tersebut tetap bersetia dan bertahan dalam kesederhanaan dan kesahajaan, serta menjalankan semua tradisi yang diwariskan oleh leluhur mereka. Mereka adalah penduduk Kampung Naga.
Kampung Naga merupakan sebuah kampung atau desa tradisional yang terletak di tepi jalan raya Garut-Tasikmalaya. Disebut tradisional karena mereka masih konsisten dalam mempertahankan adat istiadat serta budaya leluhur. Hal ini sangat berbeda jauh dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Penduduk Kampung Naga juga hidup pada suatu tatanan yang penuh nuansa kesederhanaan. Bagi masyarakat Kampung Naga, kepatuhan dalam menjalankan adat merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur (karuhan). Sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhan dianggap tabu, yang bila dilanggar akan menimbulkan petaka.
Daerah perkampungan yang dihuni sekitar 311 jiwa ini terletak di lembah subur di tepi Sungai Ciwulan. Perkampungan ini terbagi dalam beberapa wilayah seperti wilayah hutan, sungai, persawahan, dan perumahan. Setiap area memiliki batas-batas tersendiri dan tidak boleh dilanggar. Karena, dalam kepercayaan mereka, di tiap batas wilayah terdapat makhluk halus sebagai penunggunya. Jika batas dilanggar, makhluk halus tersebut akan marah sehingga terjadilah petaka. Oleh karena itu, penduduk tidak boleh mendirikan rumah di area persawahan, begitu pula sebaliknya, karena hal ini berarti melanggar ajaran karuhan.
Di Kampung Naga terdapat 111 bangunan yang terdiri dari 108 rumah hunian, 1 balai pertemuan (bale patemon), 1 masjid, dan 1 lumbung. Masjid, balai pertemuan, dan lumbung diletakkan sejajar menghadap ke arah timur-barat. Di depan bangunan-bangunan tersebut terdapat halaman luas yang digunakan untuk upacara adat. Sedangkan bangunan rumah penduduk berdiri berjajar menghadap utara-selatan.
Rumah-rumah di Kampung Naga berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu dan anyaman bilah bambu. Sedangkan atapnya terbuat dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang.
Desain arsitektur dan interiornya sederhana namun tertata apik, sehingga udara dan cahaya tersirkulasi dengan baik. Selain itu, bangunan di Kampung Naga ini juga tahan gempa. Hal itu terbukti saat gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang Tasikmalaya pada Rabu, 2 September 2009 silam, tak ada satu pun rumah warga Kampung Naga yang roboh atau mengalami kerusakan yang berarti. Oleh karena itu, Kampung Naga akan dijadikan percontohan sertifikasi desain arsitektur bangunan hijau dan hemat energi Indonesia oleh Green Building Council of Indonesia (GBCI).
Daya tarik utama yang dimiliki oleh Kampung Naga adalah suasananya yang sangat tenang dan damai, di mana masyarakatnya masih berpegang teguh pada tradisi serta menjaga nilai-nilai kearifan lokal – satu hal yang sudah sulit ditemui di perkampungan modern dewasa ini. Sebelum Anda menjejakkan kaki di wilayah perkampungan, Anda harus berjalan menuruni beratus-ratus sengked (anak tangga) yang cukup curam, sehingga saat hujan turun Anda harus berhati-hati jika tidak mau terpeleset dan terjatuh. Namun, perjuangan Anda tidaklah sia-sia, karena di sepanjang jalan Anda akan disuguhi dengan panorama yang sangat mempesona. Sawah menghijau, Sungai Ciwulan yang mengalir berkelak-kelok, kicau burung, gemericik air mengalir, hembusan angin, semuanya menghasilkan komposisi nyanyian alam yang indah.
Di Kampung Naga terdapat beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung, antara lain tidak boleh berkata sembarangan, tidak boleh mengganggu hewan yang ada, dan tidak boleh mematahkan ranting-ranting pohon. Peraturan itu tidak hanya untuk wisatawan saja, melainkan juga berlaku bagi penduduk lokal. Bahkan, bagi penduduk asli Kampung Naga terdapat lebih banyak peraturan atau yang mereka sebut sebagai pamali. Sebagai contoh, mereka tidak boleh mengecat rumah mereka kecuali menggunakan kapur, tidak boleh membangun rumah menggunakan batu bata dan semen, tidak boleh mengadakan pertunjukan seni selain kesenian asli Kampung Naga, dan masih banyak peraturan lainnya. Bagi orang luar aturan tersebut mungkin terlihat tidak masuk akal, namun justru beranjak dari pamali dan kearifan lokal itulah kelestarian Kampung Naga tetap terjaga. Selain itu, hampir sama dengan masyarakat Badui, warga Kampung Naga tidak memperkenankan barang maupun peralatan modern masuk ke kampung mereka. Bahkan, jaringan listrik pun tidak diperkenankan masuk ke kampung ini. Oleh karena itu, saat malam tiba suasana menjadi begitu gelap. Hanya ada sinar teplok atau lentera sebagai penerang utama di rumah-rumah. Sedangkan untuk penerangan di jalan-jalan, mereka terbiasa menggunakan suluh. Namun, justru itulah yang menjadi keunikan ketika Anda menginap di kampung ini – suasana perdesaan yang benar-benar menyatu dengan alam.
Jika Anda memiliki waktu yang cukup banyak, tak jauh dari Kampung Naga terdapat dua air terjun kecil yang berfungsi sebagai pembatas wilayah dan sumber pengairan pada musim kemarau. Anda bisa bermain-main di air terjun ini. Namun, menjelang maghrib Anda harus bergegas, karena ada kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat bahwa barang siapa yang mandi di air terjun tersebut menjelang maghrib pasti akan kesurupan.
Sebagai warga sebuah kampung adat, penduduk Kampung Naga juga kerap melaksanakan upacara adat. Upacara tersebut biasa dilaksanakan pada bulan Maulud dan Syawal (kalender Hijriah). Wisatawan yang ingin menyaksikan upacara tersebut harus mematuhi semua peraturan yang berlaku selama upacara adat berlangsung.
Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Terletak di jalan raya Garut-Tasikmalaya membuat Kampung Naga mudah untuk dijangkau menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Kampung ini terletak di lembah Sungai Ciwulan, berjarak sekitar 500 meter di bawah jalan raya. Jarak tempuh dari Kota Tasikmalaya sekitar 30 kilometer dan 26 kilometer dari Kota Garut. Sedangkan dari Bandung, Kampung Naga berjarak 90 km.
Wisatawan yang ingin berkunjung ke Kampung Naga tidak perlu membayar tiket masuk. Disarankan, wisatawan yang ingin berkunjung ke Kampung Naga agar tidak datang pada hari Selasa, Rabu, atau Sabtu. Sebab, pada hari-hari tersebut masyarakat Kampung Naga sedang melakukan ritual menyepi, yakni usaha menghindari perbincangan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat dan asal-usul kampungnya.

3. Masjid Kubah Emas
Masjid Kubah Emas merupakan sebuah masjid megah yang berdiri di Kota Depok, Propinsi Jawa Barat. Ciri khas masjid ini terletak pada atap kubahnya yang terbuat dari emas 24 karat. Bangunan masjid ini mempunyai luas sekitar 8 hektar dan menempati area tanas seluas 60 hektar. Konon, karena kemegahannya, masjid ini sering disebut sebagai masjid termegah di Asia Tenggara, melebihi Masjid Istiqlal di Jakarta.
Masjid ini diresmikan pada tanggal 31 Desember 2006 dengan nama Masjid Dian Al Mahri. Tanggal peresmian ini bertepatan dengan Hari Raya Iduladha 1427 H. Menurut cerita yang beredar, bahan-bahan material masjid ini langsung didatangkan dari negara-negara Eropa dan Brazil, seperti emas, lampu, dan granit dari Italia, serta beberapa material lain dari Spanyol, Norwegia, dan Brazil. Pembangunannya pun dijalankan oleh tenaga profesional dari luar negeri dan memakan biaya milyaran rupiah.
Masjid Kubah Emas dibangun oleh seorang pengusaha asal Banten bernama Hj. Dian Djuriah Al Rasyid. Pengusaha kaya tersebut telah membeli tanah di daerah Depok sejak tahun 1996 dan mulai membangunnya sejak tahun 2001. Pembanguan masjid selesai pada akhir tahun 2006 dan dibuka untuk publik tepat pada tanggal 31 Desember 2006.
Salah satu keunikan yang dapat disaksikan pengunjung masjid ini adalah kubah tengah masjid. Masjid Dian Al Mahri mempunyai kubah berjumlah lima, yakni satu kubah utama dan empat buah kubah kecil. Bentuk kubah utama menyerupai kubah bangunan Taj Mahal di India. Kubah tersebut mempunyai diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sementara kubah-kubah kecil lainnya memiliki diameter bawah 6 meter, diameter tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter. Seluruh kubah tersebut dilapisi emas setebal 2 hingga 3 milimeter dan dihiasi oleh mozaik kristal. Selain itu, di pojok-pojok masjid juga berdiri enam menara yang berbentuk segi enam (heksagonal) dengan tinggi sekitar 40 meter. Keenam menara ini dibalut oleh batu-batu granit abu-abu yang diimpor dari Italia dengan ornamen melingkar. Pada puncak menara-menara ini juga terdapat kubah yang dilapisi oleh emas. Enam menara ini melambangkan jumlah rukun iman, sedangkan lima kubah melambangkan rukun Islam.
Di Masjid ini juga terdapat lampu gantung yang didatangkan langsung dari Italia dengan berat sekitar 8 ton. Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan kekhasan relief yang menghiasi ruang Mihrab yang terbuat dari emas 18 karat. Kekhasan relief ini juga dapat dilihat pada pagar pembatas di lantai dua, hiasan kaligrafi di langit-langit masjid, dan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah yang berlapis bahan prado atau sisa emas. Khusus untuk langit-langit masjid terdapat hiasan kaligrafi bergaya Kuffi yang terbuat dari lempengan kuningan berlapis emas.
Kalau dilihat secara umum, arsitektur masjid ini mirip bangunan-bangunan masjid di Timur Tengah, yakni dengan ciri khas kubah, menara, halaman dalam, serta corak hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk-nya.
Sebagai sebuah bangunan yang megah dan memesona, masjid ini mempunyai bangunan dan halaman yang begitu luas. Luas bangunan masjid sekitar 8.000 meter persegi dan mampu menampung sekitar 15.000 hingga 20.000 jamaah. Ruangan masjid terbagi atas ruang utama, ruang mezanin, halaman dalam, selasar atas, selasar luar, dan ruang-ruang fungsional lainnya. Ruangan utama masjid didominasi oleh warna monokrom dengan warna dasar krem. Warna-warna ini seolah memberi nuansa tenang dan nyaman bagi pengunjung yang berada di dalam masjid ini. Pada bagian luar masjid terdapat taman luas yang mengitari masjid. Taman ini ditumbuhi pepohonan rindang yang dapat memunculkan suasana sejuk dan asri bagi pengunjung. Konsep penataan taman ini merupakan kolaborasi antara arsitektur bangunan masjid bernuansa Timur Tengah dengan suasana lingkungan tropis Indonesia.
Masjid ini terletak di Jalan Meruyung, Kelurahan Limo, Kecamatan Cinere, Kota Depok, Propinsi Jawa Barat, Indonesia. Masjid Kubah Emas berlokasi di pinggir Jalan Meruyung, Kecamatan Cinere, Kota Depok. Untuk menuju lokasi ini tidak terlalu sulit, karena dapat ditempuh dari beberapa arah. Bila berangkat dari arah Terminal Depok, pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi dapat mengambil jalan menuju arah Kecamatan Sawangan. Setelah sampai di pertigaan Parung Bingung, pengunjung disarankan berbelok ke kanan ke arah Kecamatan Cinere, lalu menuju lokasi masjid. Jarak antara pertigaan Parung Bingung ke lokasi masjid sekitar 3—4 km.
Bagi pengunjung yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, dari Terminal Kota Depok, dapat berangkat dengan menggunakan jasa angkutan kota (angkot) nomor 03 menuju pertigaan Parung Bingung. Dari pertigaan ini, pengunjung disarankan menggunakan ojek menuju Masjid Kubah Emas. Kota Depok berjarak sekitar 7 km dari Masjid Kubah Emas.
Sedangkan untuk pengunjung yang berangkat dari Terminal Lebak Bulus atau Terminal Pondok Labu di Jakarta Selatan, dapat menggunakan jasa angkutan kota (angkot) bernomor 102 menuju pertigaan Parung Bingung, kemudian belok kanan menuju arah lokasi masjid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar